tentang perak, bakteri dan antibiotik dari @hotradero

Posted on February 2, 2011

0


Zat paling umum yg bersifat anti bakteri adalah logak Perak. Sudah dikenal dari dulu oleh bangsa Mongol.

Bangsa Mongol penggemar minuman susu kuda. Mereka menemukan bahwa susu kuda yg ditaruh di cawan perak lebih lambat basi.

Bagaimana perak dapat membunuh bakteri? Ion positif Perak dalam konsentrasi tertentu merusak dinding sel bakteri.

Syarat lainnya tentu ruangnya harus tertutup. Karena bakteri juga bisa berpindah lewat udara.

Bila ruangnya terbuka – tentu saja Ion Perak menjadi tidak efektif – karena pasokan bakteri dari udara muncul terus.

Di rumah sakit, cairan mengandung perak (colloidal silver) digunakan dalam pengobatan luka bakar – agar tdk infeksi.

Untuk mencegah infeksi mata karena bakteri – selain via antibiotik juga digunakan obat tetes yg mengandung ion perak.

Di masa kini, saat banyak bakteri mulai kebal terhadap berbagai zat anti-biotik – dokter kembali menggunakan perak.

Mengapa bakteri jadi kebal terhadap antibiotik? Karena manusia sering menggunakannya secara sembarangan.

Jangan lupa, bakteri itu mahluk hidup – jadi akan berevolusi & menyesuaikan diri. Generasi berikutnya akan lebih tangguh.

Istri saya cerewet soal antibiotik. Ada kesalahan umum orang2 saat minum obat antibiotik. Semisal dibilang 3x sehari.

Seharusnya itu berarti minum antibiotiknya setiap (24 jam dibagi 3) = 8 jam. Mengapa begitu? Agar efeknya merata.

Orang sering salah: minum antibiotik 3 kali sehari disesuaikan dg jadwal makan. Padahal jaraknya kan nggak sama.

Sebagai akibatnya, zat antibiotik menumpuk dlm darah pd jam2 tertentu – sementara pd jam2 yg lain justu sangat kurang.

Akibatnya bakteri yg tidak terbunuh krn pasokan antibiotik yg kurang pd jam2 tertentu – akan membiakkan generasi yg kebal.

Jadi bagaimana seharusnya kita mengkonsumsi antibiotik? Kalau dibilang 3x sehari ya berarti tiap 8 jam, dan tidak boleh ditawar.

Artinya: kalau jadwalnya jam 3 pagi – tetap harus bangun utk minum antibiotik. Jadi kalau perlu pasang alarm.

Kalau diresepkan 24 tablet antibiotik – ya memang harus dihabiskan semua, biarpun sdh merasa sehat. Agar bakteri tdk jd kebal.

Kalau sudah kebal, maka dosis terpaksa ditingkatkan. Ini tidak baik bagi tubuh, karena bisa ikut membunuh bakteri yg baik.

Tweeps pasti pernah merasa kenapa sesudah minum antibiotik kita jadi gampang diare. Itu karena bakteri baik dlm perut ikut mati.

Hidup kita sangat tergantung pd bakteri. Tubuh kita sendiri adalah sebuah koloni bakteri ukuran raksasa. Mengapa begitu?

Secara total, BISA terdapat lebih banyak bakteri dlm tubuh seseorang – ketimbang jumlah sel dlm tubuh manusia itu sendiri.

“@aarianti: ga sepenuhnya benar. bbrp antibiotik bersifat prokinetik usus, jd diare timbul akibat efek ini. Re: diare & bakteri baik mati”

Dokter biasanya ikut meresepkan antibiotik krn bisa saja tercetus lewat infeksi bawaan saat tubuh lemah. @wulanayur

Seharusnya juga. Karena kita kan sudah tau mekanisme penyebabnya. RT @kura2giok: Kalo susu sapi bisa lebih awet juga gak om?

RT @arydoe: @hotradero yang paling seram MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus) katanya bang. Bahkan 1 RS bisa dikarantina klo ada outbreak

Betul. Sekarang ini bakteri yg kebal antibiotik sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Disebut “Superbug”.

RT @triyudanto: @hotradero ga sepenuhnya saklek begitu pak,yg penting : menjaga bioavailibilitas kandungan antibiotik tsb dlm terapeutik window. Jd “jadwal” memang berada dlm “kisaran” rather than angka tepat.

RT @triyudanto: @hotradero beberapa jenis memang memiliki terapeutik window yg lebih sempit dari yg lain,shg compliance jd kunci penting. Demikian pak.tks

“Rule of Thumb” dari tweets saya adalah jangan sembarangan dg antibiotik & perlu perhatikan jadwal – agar efektif.

Usahakan makan (walau sedikit atau cuma camilan) sebelum minum antibiotik – kalau memang diresepkan sesudah makan. @danialukitasari

Virus pencetus flu biasanya membuat tubuh kita lemah. Saat lemah – infeksi sekunder dari bakteri bisa terjadi. @febyudhana

“@mumed: Ralat om, klo udah kebal, bukan dosisnya ditingkatkan tp hrs ganti antibiotik lain. khawatirnya klo resisten ntar ga bs diobatin”

OK saya ralat – maksud saya adalah diupgrade dg menggunakan antibiotik yg lebih kuat/keras.

Iya. Itu efek antibiotik Tetracycline jaman 1970-an. RT @myaowww: Katanya banyak minum antibiotik buat gigi jd kuning? Betulkah?

RT @rezagunawan: @hotradero IMO, dlm praktek medis skrg, perlu recheck benar ttg perlunya antibiotik krn sering infeksi non-bakterial diberi resep antibiotik

RT @rezagunawan: @dewidamayani 1. Pelajari bedanya infeksi bakterial & non-bakterial, 2. Belajar selfhealing & antibiotik alami, 3. antibiotik jika perlu aja

Dokter juga macam2 (kualitasnya). Itu sebabnya pd banyak keadaan kita perlu “second opinion” dan itu HAK kita sebagai pasien.

Susah dikuantifikasi-nya Ito @sophieNavita. Bakteri itu banyak sekali di sekitar kita & jg dalam tubuh. Sangat dekat dg kita.

Dan manusia pun tidak bisa hidup tanpa bakteri. Nanti saya akan jelaskan tentang hal ini.

SEHARUSNYA dokter mengandalkan uji lab sebelum boleh mengambil kesimpulan & memberikan obat. TAPI ternyata sulit juga @ehandayani

Masalahnya, uji lab berarti cost tambahan bagi pasien. Belum lagi harus ada waktu sebelum hasil muncul. Maka uji lab sering di-bypass.

Hal itulah yg sering membuat kesalahan diagnosa & akhirnya kesalahan pengobatan. Pasien dijejali antibiotik padahal bukan krn bakteri.

Belum lagi uji lab itu mahal, sehingga bagi pasien tertentu dokter terpaksa “smartguessing” mengenai penyakit yg diderita pasien.

Banyak penyakit yg gejalanya sama/mirip. Tanpa uji lab dokter sebenarnya tdk boleh benar2 yakin penyakit yg diderita pasien.

Dan uji lab pun belum tentu bisa 100% mengungkap penyakit. Adik saya pernah mengalami salah pengobatan padahal sdh uji lab.

Dokter pada dasarnya harus berpikir seperti ilmuwan. Jadi hipotesis penyakit pun harus dibuktikan lewat uji agar bisa lebih yakin.

RT @maullidaa: @hotradero tetrasiklin mmg kontra indikasi buat ank dlm ms pertumbuhan, bkin gi2 brubh warna

RT @Adrijantopeda: @hotradero @accangsaja ijin jawab pak, perak murni akan berubah warna hitam apabila dicelupkan ke makanan/minuman yg beracun (arsenik).

Tentang perak sebagai indikator keberadaan arsenik – akan saya coba cari dulu literatur pendukungnya. Kayaknya sih ada di buku…

Bakteri Salmonella Typhi bisa hidup secara terbatas di lipatan2 usus. Itu sebabnya penyakit typhus bisa kumat lagi @yongki555

Seharusnya YA, tapi ternyata banyak kendala juga. Biasanya soal biaya & waktu. “@aipsun: apakah semua diagnosa harus ada uji lab dulu?”

Boleh saja berpendapat begitu – tapi tentu harus siap dengan resikonya. Semua obat kan pada dasarnya adalah racun. @ehandayani

Itu dilemanya dokter. Memang serba salah. RT @bradsurya: kalo semua diuji lab, gawat, ga ada yg berobat, saking mahalnya pak🙂 ..

Di studi farmasi – segalanya dimulai dengan asumsi itu (“semua obat pada dasarnya racun. Yang membedakan adalah dosis”) @ehandayani

Trims atas masukannya “@miz_mita: maaf om cm koreksi tdk semua diagnosa dokter tidak bs d tegakkan klo tdk ada hsl lab. Lab hanya penunjang”

Dokter memang boleh melakukan diagnosa tanpa hasil lab. Tetapi tentu jangan jadi kebiasaan & dilakukan sembarangan.

Dokter adalah salah satu profesi yg punya kecenderungan “silo thinking” – itu sebabnya perlu penyegaran via ikuti metode ilmiah.

“Silo thinking” adalah kebiasaan untuk mengikuti alur tertutup atas suatu analisa. Perlu stimulus2 eksternal utk mengubahnya.

RT @endahcitraresmi: @hotradero bukannya jd kebiasaan, tp pd byk kasus lab memang tdk perlu. Cth common cold, campak, roseola, dll sama sekali tdk butuh pem lab

Dokter saya berpendapat sebaliknya: banyak kasus2 yg seharusya perlu uji lab – malah sering diabaikan oleh dokter2.

Tentu semuanya kita kembalikan pada pasien. Kalau dokter kita terlalu cepat ambil kesimpulan & memberi obat – kita harus waspada.

Iya itu masalah besar. RT @_yza: Kadang justru pasien sendiri yg minta pemeriksaan lab dieliminasi walau diinformasikan dokter sebelumnya.

Dan gilanya lagi – di Indonesia punya kebiasaan mem-by-pass dokter – begitu sakit langsung beli obat ke apotek. Mendokteri diri sendiri.

Sementara berbagai obat yg harusnya pakai resep – bisa dibeli tanpa perlu resep dokter sama sekali.

Banyak dimensi dalam soal kesehatan & medis. Intinya kita harus paham mekanisme pengambilan keputusan & konsekuensinya.

Tidak harus berarti mikir diri sendiri – tetapi bisa juga kalau berpikirnya hanya dari satu sisi/di antara org yg sama melulu. @sanggraini

Kasus Subprime Mortgage yg merontokkan finansial Amerika – dipicu oleh kecenderungan “silo thinking” di berbagai lembaga keuangan.

RT @triyudanto: @hotradero mungkin lebih tepatnya Pak,sering kali hasil lab itu dibutuhkan utk me-rule out diagnosis banding sehingga diagnosisnya tegak

Mungkin memang harus ada skema asuransi kesehatan yg bisa membuat pelayanan kesehatan berjalan sebagaimana mestinya di Indonesia.

Saya hanya melihatnya dari banyak sisi. Ini belum lagi melibatkan aspek psikologis. Jadi dokter memang harus ilmiah. @mysteryugi

Kalau dokter tidak berani menganalisa secara ilmiah & disiplin dalam cara berpikir – maka apa bedanya dengan dukun?

Insinyur & programmer sering banget silo thinking. Ujungnya mereka berkelahi dg orang pemasaran.🙂 @shandysatya

Betul. Jadi dokter memang tidak mudah “@_yza: Ya memang tugas tambahan yg cukup menantang u/ dokter mengembalikan kepercayaan masyarakat.”

“@afreeze: saya kira masalahnya karena dokter punya pengetahuan biokimia yang terbatas. Dokter lebih banyak menghafal bukan memahami.”

RT @nezzarerraldin: @hotradero yang paling bagus konsep family doctor, jadi pasien dapat tindakan semestinya, dan sistem rujukan juga berjalan dengan baik.

OK Tweeps saya akhiri dulu di sini. Penekanan ada pada sikap kritis & membuka diri. Berlaku bagi siapa saja – termasuk juga saya.

Posted in: Uncategorized