#Brandstory Li Ning dari @harynovianto

Posted on January 16, 2011

0


Yak 5 menit lagi #Brandstory akan kembali mengudara setalh absen lama.🙂 Mohon maaf kalau timeline jadi penuh sesak.

1.Biasanya brand2 dari Tiongkok hanya dipandang sebelah mata, karena belum banyak brand lokal yang kuat di pasar global. #Brandstory

2.#Brandstory kali ini mengenai Li Ning, produsen apparel & sepatu dari Tiongkok, yg mungkin akan merubah persepsi Anda.

3.Brand Li Ning sebenarnya berusia muda, didirikan tahun 1990 oleh mantan atlet top gymnast China dengan nama sama: Li Ning. #Bstory

4.Sekilas logo Li Ning mirip dengan Nike, walaupun sebenarnya berasal dari huruf L dan N, nama brand & nama sang founder #Bstory

5.Tetapi menurut sang founder: logo Li Ning berasal dari Chinese character “Ren” yang artinya people. #Bstory

6.Ditinjau dari sisi sponsorship dan marketing, langkah-langkah Li Ning boleh dikatakan cukup berani. #Bstory

7.Mereka antara lain telah mengontrak Shaquille O’Neal sebagai brand ambassador produk mereka. #Bstory

8.Atlit NBA lain juga berhasil digaet: Baron Davis (LA Clipper), Damon Jones (Bucks), dan terakhir Evan Turner (76ers). #Bstory

9.Pada saat Beijing Olympic 2008, mereka mensponsori tim atletik Sudan, tim ping-pong Amerika dan tim Swedia #Bstory

10.Guerilla Marketing yg mereka jalankan juga sukses: hal itu terjadi ketika Olimpiade Beijing tahun 2008 #Bstory

11.Di saat Adidas membayar $80 juta sebagai official sponsor Olimpiade, justru Li Ning yang berhasil mencuri perhatian. #Bstory

12.Bagaimana bisa? Ingat tidak seremoni pembukaan, dengan atlit yang lari di udara, atlit tersebut adalah Li Ning, sang pendiri. #Bstory

13.Kebetulan nama itu sama dengan nama brand Li Ning – dan itu adalah sebuah ambush marketing yang cerdik #Bstory

14.Pertanyaannya mengapa mereka begitu gencar melakukan sponsorship di negara yg bukan market mereka? #Bstory

15. Apalagi 99% bisnis Li Ning masih ada di pasar local China. #Bstory

16.Jawabannya, karena cara ini ternyata cukup ampuh untuk mengangkat profile Li Ning. #Bstory

17.Meskipun di pasar China sendiri, Li Ning hanyalah pemain No. 3, setelah Adidas dan Nike. #Bstory

18. Li Ning butuh image sebagai pemain global, karena itu memang tujuan jangka panjang mereka. #Bstory

19. Jika Jean Noel Kapferer (Pakar Strategic Brand) bilang, image yang kuat didapat dari identity atau karakter yang kuat. #Bstory

20. Li Ning memiliknya, walaupun tentu saja masih perlu waktu untuk memiliki tempat di benak dan hati konsumen #Bstory

21. Kembali ke soal sponsorship, langkah itu sudah dihitung dengan cermat. #Bstory

22. Uang yang dikeluarkan dibandingkan eksposure yang didapat: Li Ning ternyata mendapatkan hasil yang signifikan. #Bstory

23. Deal dengan Shaquille O’Neal misalnya, hanya berlaku untuk pasar China. #Bstory

24.Jika dihitung, deal ini tentu saja jauh lebih murah, tetapi efeknya besar ke Li Ning — media coverage yg didapat berskala global #Bstory

25. Beberapa strategi lain yang dilakukan Li Ning untuk semakin mendongkrak profile mereka: #Bstory

26.Konsisten dengan cutting-edge-sport-marketing-ala-Nike adalah salah satu challenge brand ini. #Bstory

27.Awalnya menggunakan tagline “Anything is possible”, dan itu diluncurkan sebelum Adidas keluar dg tagline “Impossible is nothing” #Bstory

28. Tapi kemudian melakukan brand rejuvenation untuk memperkuat image Li Ning dg campaign “Make the Change” #Bstory

29. Brand ini juga mempekerjakan mantan desainer produk Nike, untuk meningkatkan kualitas serta image. #Bstory

30. Beberapa design center dibuka: selain di Beijing, mereka juga membuka design center di Portland, Oregon. #Bstory

31. Padahal Portland ini adalah backyard atau kampungnya Nike, sebuah langkah yg penuh resiko tapi cerdas. @Bstory

32. Hasilnya beberapa signature shoes yang tidak kalah dengan milik Adidas or Nike – seperti line-up Bow. #Bstory

33. Tidak mudah memang bertahan di cut-throat market seperti sepatu olahraga, dengan competitor yg punya deep-pocket #Bstory

34. Di China sendiri Li Ning memiliki sekitar 5.000 outlet, dan ditempel ketat oleh pemain lokal lain yaitu Anta Sports. #Bstory

35. Harga sepatu Li Ning sekitar US$ 30 – 70, sedang harga sepatu Nike sekitar US$ 90 – 150. Okay, Nike lebih mahal. #Bstory

36. Tetapi konsumen melihat Nike lebih cool, jika mereka memiliki uang lebih, mereka akan lari ke competitor. #Bstory

37. Li Ning sadar, kelemahan mereka ada di brand management – karena mereka punya production cost yg competitive. #Bstory

38. Kalau trust ke konsumen, jaringan distribusi, dan brand image yang kuat sudah didapatkan, Li Ning akan tumbuh pesat. #Bstory

39. Karena salah satu cara untuk mengejar competitor seperti Nike dan Adidas adalah dengan membuat brand Li Ning juga “Cool” #Bstory

40. Artikel di Reuters sendiri sudah memperingatkan pemain yg mapan seperti Adidas, Nike, dan Puma untuk waspada. #Bstory

41. Tetapi, Li Ning juga harus berhati-hati karena upah dan gaji yg semakin meningkat di China. #Bstory

So, sekian terima kasih #brandstory mengenai Li Ning sebuah challenger brand. Mohon maaf kalau timeline jadi penuh. Happy Sunday.

@Damssky Yao Ming terikat kontrak dengan Reebok sepertinya bro, long term pula. Jadi kalah duluan Li Ning🙂 CMIIW

@dennydom86 betul bro, modal pasar dalam negeri, baru kemudian ekspansi global🙂

@AgungpumA @tuhunugraha @ragilduta @felixferdi @cindymonica ada pemain lokal yg potensial: League, tp butuh komitmen yg kuat u/ go global

RT @DragonLFC: @harynovianto salah 1 langkah besar Li Ning : berhasil jd apparel tim Espanyol & Malaga di liga Spanyol #Bstory

RT @deekasuksmana: sekarang udah banyak bgt produk China coba ngikutin Li Ning, & sasaran mrk mmg pemain2 basket NBA spya pnya brand sndiri

@DragonLFC @deekasuksmana kl gak salah tim basket argentina, malaga, celta vigo, bogdanovic (tenis) jd brand ambassador Li Ning juga

 

Posted in: Uncategorized