kisah #Khidir dan Musa dari @ryuhasan

Posted on December 30, 2010

0


Ketika #Khidir diperintahkan untk menunggu Musa di majma’ol bahroin yg digambarkan sbgi tempat bertemunya dua samudera.

Jangan2 majma’ol bahroin adalah Nusantara, atau dimana saja, itu tdk penting. Yg lbh penting adlh apa yg bisa diambil dari kisah #Khidir

#Khidir dan Musa bertemu. Kemudian mrk melakukan perjalanan, Khidir bilang bhw Musa pasti tdk akan sanggup bersabar mengikutinya.

Dalam perjalanan mrk, #Khidir melakukan tiga hal. Pertama, ketika keduanya menjumpai kapal di perjalanan, Khidir melobanginya.

Kedua, #Khidir membunuh anak kecil, tepatnya dia memuntir dan kemudian memenggal leher anak tersebut, tanpa banyak komentar

Ketiga, #Khidir menegakkan dinding rumah yg hampir roboh, padahal rumah itu terletak di negeri yg penduduknya telah menganiaya mereka.

Peristiwa ketiga sekaligus jadi perpisahan #Khidir & Musa. Khidir sampaikan hikmah2 perbuatannya yg membuat Musa tdk lulus ujian kesabaran.

Musa tak mampu menjangkau ilmu #Khidir. Bhw Khidir melobangi kapal tsb alasannya adlh krn saat itu sedang ada kapal perompak mendekat

Kalau kapal tsb terlihat berlobang atau bocor tidak akan dirampok. Tapi kalau terlihat utuh dan baik pasti akan dirampok. #Khidir

Kapal itu ‘sedang’ berlayar, perampoknya jg ‘sedang’ berlayar, shg ini dapat diartikan lambang dimensi waktu sekarang/ kekinian. #Khidir

Anak kecil yg dipenggal kepalanya, #Khidir mengatakan bhw anak itu kelak menjadi jahat & menyeret org tuanya jadi ikut2an jahat pula

Maka #Khidir membunuh anak itu pada hakikatnya sama dgn ‘menyelamatkan’ si anak, org tuanya, serta org lain dari tindakan ‘kejahatan’

Mata hukum kita, mata syar’i kita & mata fiqh kita tdk ‘nyucuk’ menangkap hikmah #Khidir. Ini adlh ‘hak’ Khidir yang kita tidak memilikinya

Pengetahuan #Khidir ttg jahatnya si anak di masa datang itu, bisa disebut ramalan/ futurologi. Menurut kaum thoriqoh disebut kasyful hijab

Berarti peristiwa anak kecil ini dapat dikatakan melambangkan dimensi waktu yang ‘akan datang’ atau masa depan. #Khidir

Dan dinding yg ditegakkan oleh #Khidir, krn di rumah yg hampir roboh itu terdapat harta karun milik anak yatim piatu, warisan orang tuanya

Dengan begitu, #Khidir mengamankan harta anak yatim piatu. Harta warisan itu tentunya melambangkan waktu yang ‘telah lalu’ atau masa silam

Kisah #Khidir, mengajar kita menyadari akan keberlangsungan masa kini, memandang ke depan, serta terus berkaca (refleksi) ke masa lalu

Begitulah urut2annya kalau mau maju dlm hidup.Menyadari masa kini, memandang masa depan,serta terus berkaca (refleksi) ke masa lalu. #Khidir

Tapi bukankah kita juga sering mendapati ilmu #Khidir yg seperti itu dipakai orang tua bijak jaman skrg ketika menasihati anaknya?

“Kamu ini nakalnya amit2 (simbol masa kini).Mau jadi apa nanti? (masa depan). Mbok ya ingat mbah2mu dulu orang2 besar (masa silam)”. #Khidir

Jadi selalu ada perspektif ttg hari ini, hari depan dan hari yang lalu . Perspektif yang terus berputar, spt ‘cakra manggilingan’. #Khidir

Bagi saya tdk penting, apakah kisah #Khidir – Musa terjadi scr faktual atau tidak. Pelajaran yg bisa diambil dari kisah itu yg lbh penting

Dan kalau saya menangkapnya sebagai pelajaran ttg ketiga dimensi waktu tadi. Itu mungkin krn memang mampu saya hanya begitu. #Khidir

Kalaupun ada yang mampu menangkap kisah #Khidir dg lebih canggih, ya monggo2 saja. Bukankah kisah ini sangat terbuka utk diambil teladannya?

 

Posted in: Uncategorized