tentang puisi dari @gm_gm

Posted on December 11, 2010

0


Capek ngomong politik terutama ttg monarki. Bagaimana kalau saya Kul-Twit soal puisi? Tadi ada yang usul begitu…

Untuk Kul-Twit puisi, saya hrs minta izin utk membosankan – dan kurang lengkap. Terutama buat para penyair di Twitterland.

Wah, mengharukan juga. Yang setuju Kul-Twit puisi cukup banyak. Saya harap @1Srengenge @haspahani @ND_nir @mushroomteaser dll setuju…

1. Apa guna puisi? Sebenarnya tak ada. Kalau ada, spt guna lukisan yg kita pasang di dinding, lagu Sting & Bach yg kita dengar di radio. #p

2. Tapi di jaman dulu, puisi diberi isi petuah, atau hikayat. Bahkan, dlm bentuk mantra (yg juga puisi), tugas mengusir buaya. #p

3. Nah, karena kelaziman jaman dulu, puisi sekarang juga disangka atau dituntut punya keampuhan dlm bentuk petuah, pesan, penyembuhan. #p

4. Padahal ketika kita mendengarkan musik (Bach, Bonita, Budjana, dll) kita bisa asyik tanpa minta agar musik itu membuat kita “baik”. #p

5. Di negeri2 komunis, di zaman Stalin di Rusia dan Mao di Cina, puisi juga diberi tugas jadi pengubah jiwa manusia. Akibatnya: represi. #p

6. Maka di zaman Stalin, Penyair Anna Akhmatova dan Pasternak dibungkam. Penyair Mandelstahm dibuang ke Siberia. #p

7. Mengapa? Hanya karena mereka mau menulis sajak yg memberi alternatif bagi bahasa dan cara pandang yg berkuasa waktu itu. #p

8. Tampak, bhw meskipun tak jelas gunanya, tidak benar juga bhw puisi hanya untuk kenikmatan dan mengucapkan cinta. #p

9. Mari kita baca sajak Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono. Apa yg pertama kali terkesan? Bukan isinya. Tapi pesona dari kata2-nya. #p

10. Kata2 itu mempesona bukan karena “cantik”, “indah”, “keren”. Tapi karena rangkaiannya segar, terlepas dari bahasa yg itu-itu saja.#p

11. Bahasa yg terlepas dari klise menunjukkan cara memandang dunia yg tak beku, kaku, tertutup. Hidup jadi tampak kaya surprises.#p

12. Bahkan puisi juga membebskan makna bahasa yg terpaksa dibatasi, krn kebutuhan praktis, seperti bahasa dlm hukum dan ilmu. #p

13. Penyair Sutardji Calzoum Bachri (dia juga di Twiiter) malah ingin dan mampu membebaskan kata (makna kata) dari keterbatasan kamus. #p

14. Dgn puisi, dgn menikmati puisi, kita sebenarnya ikut merayakan pembebasan itu. Dan bukan sembarang pembebasan bahasa yg terjadi.#p

15. Dgn bahasa yg tak terjerat klise dan konvensi, kita bisa sampaikan cinta kita secara pas dgn perasaan kita, saat hati tergerak #p

16. Maka ada ketulusan. Ada kejujuran. Bukankah kita biasanya orang tak mau jujur dgn memakai kata2 klise, spt para politisi itu? #p

17. Pembebasan bahasa dlm puisi juga mengandung pembebasan tafsir atas bahasa itu. Tafsir atas sebuah sajak tak bisa diseragamkan. #p

18. Maka anda bisa tafsirkan sajak Sapardi sesuai dgn sikap anda suatu saat. Belum tentu cocok dgn tafsir orang lain. Dan itu tak apa-apa. #

19. Sebab puisi bukanlah rumus kimia, atau instruksi baris berbaris, atau manual memakai Blackberry. #p

20. Bahasa puisi pada awalnya bukanlah bahasa untuk komunikasi, tapi untuk ekspresi (yg dicoba di- atau ter-komunikasikan). #p

21. Isi yg bisa ditangkap pengertian, isi kognitif, bukan yg satu-satunya yg ada dlm puisi, bahkan bukan yg terpenting. #p

22. Sebab itu tidak tepat untuk membaca puisi sambil sibuk bertanya: ini maksudnya apa, sih? Dlm puisi, ada gerak yg tak bisa dirumuskan. #p

23. Bahkan banyak puisi yg mengandung unsur cetusan bawah sadar. Terutama dlm sajak-sajak yg bersifat surrealistis. #p

14. Misalnya sebaris sajak Sitor Situmorang: “Malam Lebaran/Bulan di atas kuburan”. Jika dianalisa secara akal, puisi ini “salah”. #p

15. Menurut tafsir saya, dlm sajak ini, bayangan kegembiraan Lebaran bertaut mendadak dgn bayangan berkabung. Tak ada yg salah, kan? #p

16. Atau satu bait sajak Hanna Fransisca dlm kumpulan yg baru2 ini terbit, “Konde Penyair Han”, yg diterbitkan KataKita…#p

17. “Ranting bambu telah terbakar, Han/ribuan akar ditanak/bersama butiran isakmu”. Beberapa “gambar” beda bertaut, kontras, memukau. #p

18. Buku puisi “Konde Penyair Han” baru2 ini masuk daftar yg diunggulkan utk Penghargaan Khatulistiwa. #p

19. Selain karya Hanna Fransisca, orang Pontianak itu, tentu perlu dibaca puisi para pemenang: Gunawan Maryanto dan Mardiluhung. Bagus2. #p

20. Ada dua buku puisi baru =yg ingin saya pujikan utk dibaca: Pertama, “Perempuan Yang Dihapus Namanya” oleh Avianti Armand. #

Interupsi: terima kasih untuk @aajap: penomoran Kul-Twit ini salah. Harusnya yg berikut ini nomor 31, bukan? Maaf. Tadi ada gangguan. #p

31. Yang kedua, tentu saja, “Buli-Buli LIma Kaki” karya Nirwan Dewanto, terbitan Gramedia Pustaka Utama. Karya2 Nirwan terbagus… #p

32. Oh, ya. “Perempuan Yang Dihapus Namanya” oleh Avianti Armand diterbitkan oleh a publication. #p

33. “Perempuan Yang Dihapus Namanya” menuliskan kembali sosok2 perempuan dalam Perjanjian Lama. Hawa, Tamar, Batsyeba, Jezebel….#p

34. Dlm buku itu juga ada tokoh perempuan yg misterius, yg diciptakan (menurut sebagian tafsir) bersama lelaki pertama. Bukan dari rusuk. #p

35. Saya kutip dari “Buli-Buli”: “Perempuan yg bertubuh seluas malam itu/Rajin memecahkan cermin/Supaya bulan/Menjadi ibu bagi wajahnya”.

36. Sekali lagi, yg muncul dari bait ini kombinasi2 yg tak disangka-sangka, yg membuka hati kita utk kemungkinan2 yg berbeda. #p

37. Dlm sajak “Hawa” Avianti, adegan surga waktu manusia dicipta disusun spt dlm sebuah pentas. “Sebutir matahari untuk menandai Timur”. #p

38. Dari puisi spt itu, kita bersua dgn imajinasi manusia yg bisa menghadirkan yg tak terduga. Spt dlm kanvas Salvador Dali (lih.Wilkipedia)

39. Saya kira, itulah hal2 yg dihadirkan puisi: persentuhan dgn bahasa, tafsir, imajinasi dan kebenaran yg tak terpatok di satu kotak.#p

40. Sekian. Semoga ada gunanya saya bicara soal puisi. Tak cuma soal monarki, myabi, fpi, wasabi. Terima kasih utk atensi anda.#p

RT @QarisT: Kesimpulan dr #p @gm_gm : membaca puisi itu seperti melihat kekasih: jangan dipikir-pikir, cukup dirasa-rasa.

@mon97 Puisi yg bagus mula2 adalah puisi yg anda sukai. Kemudian kita bertanya: kenapa aku sukai? Lalu kita baca telaah. Bandingkan. Dst.

@Sastrodiwiryo Penyair itu boleh marah2, tapi dia tak bisa memaksa pembaca menafsir sesuai dgn kehendaknya.

@cungss Menyaksikan karya Tadao Ando, Zumthor, Maya Lin, memang menemukan puisi. Saya sdg mau punya buku kecil: “Kota, Ruang, Puisi”.

@OcuDomoon Rima itu tak bisa dipaksakan. Yg terbagus (spt sajak Chairil) rima terbit dari rasa. Rasa yg menemukan “bunyi”.

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized