tentang ETF dan emas dari @hotradero

Posted on November 25, 2010

0


ETF itu adalah sebuah portofolio yg bisa dijual belikan di pasar modal semudah & secepat orang membeli & menjual saham.

Jadi, ketimbang beli serangkaian saham secara satu persatu – lebih baik beli ETF yg isinya setara dgn sekumpulan saham.

Yg sekarang marak: ETF Komoditi. Jadi investor bisa beli komoditi (emas, minyak, dll) semudah membeli saham. Nggak repot buat menyimpannya.

Misal kita mau beli emas buat investasi, kalau dibeli dlm bentuk perhiasan kita kena selisih jual beli yg besar – bisa 10% lebih.

Dan kalau kita sedang butuh duit, kita nggak bisa jual 1/4 kalung emas kan? Harus jual utuh – padahal cuma butuh sejumlah tertentu.

Dengan ETF Emas misalnya, kita bisa punya emas yg bisa menjadi bagian dari portofolio investasi dgn aman & relatif murah.

Ongkos transaksi cuma sekitar 0,4%. Bandingkan dg yg beli emas perhiasan yg ongkos transaksinya bisa 10%. Duit kita dimakan tukang emas.

Dan kalau sedang butuh uang, kita bisa jual sebagian saja. Ini berarti juga efisien bagi yg mau investasi secara berkala dg dana terbatas.

Agak beda. ETF performanya akan mengikuti suatu index. Jadi tdk memerlukan fund manager yg aktif berjual beli spt reksadana. @sonyRwarsono

Alternatif lain investasi emas adalah dg membeli emas lantakan (bullion). Ongkos transaksinya lebih kecil daripada perhiasan, sekitar 1-2%.

Tapi repotnya punya emas lantakan adalah dlm soal menyimpannya. Harus punya lemari besi, atau minimal sewa safe deposit box utk menjaganya.

Di ETF Emas, hal ini tdk perlu terjadi – krn emasnya secara fisik sudah disimpan di suatu tempat. Biaya penyimpanan sdh termasuk di harga.

Itu yg di pasar futures/ berjangka. “@wibiarie: @hotradero yg dimaksud ETF emas itu XAU/LOCO ya Pak?”

Itu gara2 orang Lydia. Tempat yg berada di sekitar Turki-Yunani. Re: alasan emas jadi berharga @ratnadumila

Sebenarnya berbagai bangsa sudah mengagumi emas dari dulu. Logam itu tidak pernah menjadi “tua” biarpun dilebur berulang2 ribuan kali.

Oleh sebab itu emas dipercaya bersifat abadi. (orang dulu kan percaya benda non organik bisa punya sifat & kekuatan magis yg bisa menular)

Repotnya, orang jaman dulu masih belum bisa membedakan mana emas asli dan mana yg bukan. Ada mineral yg terlihat seperti emas padahal bukan.

Ada mineral bernama pirit besi (Iron Disulfide) yg berkilauan seperti emas, tetapi tentu saja bukan emas. Disebut Fool’s Gold.

Itu sebabnya ada pameo: “All that glitter isn’t gold” (tidak semua yang berkilau itu emas). Emas sejati harus lewat seleksi.

“@nagaraniyuki: mineral yg mirip dg emas bernama pyrite & calcopyrite, keterdapatan keduanya berasosiasi dg emas.”

Lalu bagaimana orang bisa tahu mana emas murni & mana yg bukan? Lewat dua cara: ditetesi air raksa atau dipanaskan hingga lebur.

Tapi mencari air raksa itu susahnya minta ampun. Kalaupun ada cuma bisa dapat sedikit. Dan logam cair itu gampang sekali menguap.

Dari Iron Pyrite. => pirit besi. “@gm_gm: Kata “pirit besi” itu terjemahan teknis yang resmi dari “pyrit”? Kata “besi” dari mana?”

Bagaimana dgn cara dipanaskan hingga lebur? Tentu tidak semua orang bersedia emasnya dilebur hanya untuk membuktikan keasliannya.

Nah disini muncul jasa orang Lydia. Mereka menemukan apa yg disebut “Touchstone”. Bebatuan ini sampai disebut “Lydite” dr kata Lydia.

Dengan Touchstone, org cukup menggoreskan logam yg hendak diuji pd touchstone yg ada. Akan tertinggal jejak berwarna tertentu.

Emas sejati jejaknya akan tetap cemerlang, sementara mineral lain bukan emas – warnanya akan berubah setelah ditetesi asam nitrat.

Karena punya kemampuan ini, bangsa Lydia jadi dipercaya. (dan anda akan bisa mengerti apa arti nama “Lydia” di masa sekarang ini).

Bangsa Lydia pun memanfaatkan pengetahuan mereka membedakan emas ini dengan cara menerbitkan koin emas pertama sbg alat transaksi.

Koin Lydia ini yg membuat emas semakin meluas penggunaannya, karena keasliannya terjaga. Dan kaum Lydia menjaga reputasi ini.

Koin Lydia ini disebut “electrum” & beredar meluas. Org Lydia mengimpor emas, mengujinya, lalu membuatnya jd koin utk dagang.

Nah sejak masa beredarnya electrum inilah emas menjadi berharga sebagai alat tukar yg universal & diminati krn dipercaya.

Org menyukai koin emas saat itu krn lebih mudah disimpan, ditransportasikan, & dipindahtangankan. Perdagangan jadi berkembang.

Mengapa? Karena org tidak perlu lagi melakukan barter. Komoditas cukup ditukar dg sejumlah koin senilai kesepakatan harga.

Dan harga komoditas pun jadi turun sejak dikenalnya koin emas. Mengapa? Karena terkait sifat dasar komoditas yg mudah rusak.

Dalam sistem barter – bayangkan anda menukar 5 gentong ikan dg 6 gentong gandum. Belum ketemu pembeli? Kedua komoditas bisa rusak.

Bagian yg rusak dari komoditas itu akan diperhitungkan sebagai bagian ongkos produksi. Maka harga komoditas menjadi lebih mahal.

Semakin banyak yg harus disimpan – semakin banyak bagian yg akan rusak. Resiko bisnis menjadi semakin besar => harga lbh mahal.

Dg koin emas = Komoditas 5 gentong ikan bisa ditukar senilai sekian keping. Koin emas nggak akan busuk – jadi modal tetap utuh.

Tentu membawa beberapa keping koin jauh lebih mudah daripada membawa 5 gentong ikan. Anda bisa leluasa ke tempat org bertanam gandum.

Di sana kepingan koin ditukar dg 6 gentong gandum. Gandum bisa anda bawa ke pasar akhir & dijual. Anda terima koin sebagai pembayar.

Dg adanya koin emas – maka perdagangan jadi berlangsung lebih efisien, krn ada pemisahan antara pergerakan uang & pergerakan barang.

Sesudah berkembang perbankan – bahkan uang (baca: koin emas) pun tdk lagi perlu bergerak secara fisik – cukup pakai cek & uang kertas.

Karena emas relatif terbatas – maka harga koinpun meningkat. Orang terpikir: kenapa harus emas? Kenapa tdk koin perak saja?

Saat harga perak ikut naik, org berpikir: Siapa bilang harus emas/perak? Kenapa tdk pakai perunggu atau timah saja? Terus begitu.

Yg terjadi adalah pergeseran nilai tukar (semisal: 1 koin emas = 7 koin perak = 30 koin perunggu), demikian saling dipertukarkan.

Karena Lydia spesialisasinya emas – maka peran bangsa itu berkurang seiring munculnya koin dlm logam2 lain utk perdagangan.

Kelihatan sekali di sini: perdagangan berlangsung menggunakan akal sehat & bersifat adaptif (“siapa bilang harus emas atau perak?”)

Jadi seiring dg posting @ulil tentang akal sehat – saya memberi contohnya dlm sejarah penggunaan emas dlm perdagangan yg dinamis.

Tidak ada “sapi suci” dlm dunia perdagangan – kecuali kejujuran & reputasi. Semua bisa dikorbankan (termasuk emas) demi 2 hal tadi.

Dan kita lihat – perdagangan tetap berlangsung meski uang sudah bukan lagi dari emas melainkan dari logam biasa, kertas & plastik.

Intinya: ternyata mata uang dlm perdagangan itu bukanlah emas atau perak – melainkan kejujuran & reputasi. Itu yg terpenting.

Tidak juga, seiring perkembangan jaman. RT @defisuper: bang,bukanny yg ideal itu adalah alat tukar emas ya?

Tergantung kesepakatan. @kaoshitam: ada standar pertukaranya gak? Kayak 1 koin emas = brapa gentong ikan gtu,atw terserah penjuan & pembeli?

Coba anda lihat isi dompet anda: ada berapa keping emas? Tidak ada. Tapi anda bisa ke Carrefour & bawa pulang satu truk barang.

Anda bayangkan orang dari 1000 tahun lalu melihat anda belanja cuma bawa satu dompet & pulang bawa satu truk barang… Disangka dewa.

Tapi itu juga menggambarkan bagaimana tingkat kepercayaan telah sedemikian tinggi – tidak terbayangkan oleh orang2 masa lalu.

Kalau ada tingkat kepercayaan sedemikian tinggi, melalui proses sedemikian panjang lewat akal sehat – tidakkah itu dari Tuhan?

Referensi yg bagus ttg emas: Seri Video “Connections”-nya James Burke (Episode 2: “Death in the Morning”). “History of Money” Glyn Davies.

Yg juga bagus: “The Power of Gold” – bukunya Peter L. Bernstein. (akan lebih lengkap & mantap kalau dibaca bersama “Against The Gods”)

“@FebyGS: Warna gores (streak) gold adalah gold to brassy yellow, chalcopyrite= green black, pyrite greenish-black re: warna gores”

Saya sangat terinspirasi oleh buku2-nya Peter L. Bernstein. Keuangan adalah suatu bentuk teknologi – maka perlu dipahami sejarahnya.

Oh iya buku lain yg juga bagus: “The Ascent of Money: A Financial History of The World” – karya penulis favorit saya: Niall Ferguson.

Dulu saya dapatnya di Inggris. Itu video 1978-79. RT @arifanozain: Cari dimana video2 ini pak? (Re Video “Connections”-nya James Burke)

Itu jg bagus tp belum habis. @endalayukallo: +1. Kalau history of financial euphoria (galbraith)? “The Ascent of Money…karyaNiall Ferguson

Hehehe iya. “@riyogarta: jd ingat game Age of Empire, ada emas, kayu, batu dan makanan. punya emas banyak tdk menjamin jd pemenang :D”

Terkait suatu emiten/saham: Cara mengukurnya? Kembali saja ke prinsip dasar semua perdagangan: kejujuran & reputasi.

“@fxmario: bang, pedagang emas di pinggir jalan sekitar pasar senen, pake teknik menggores emas di batu.Itu teknik yg sama dgn bangsa Lydia?

Mungkin saja. Tapi sekarang kemurnian emas bisa dideteksi dg berbagai cara lain – ada yg secara elektronik – biasa di bank sentral.

Dan tentu kita tidak boleh lupa Archimedes…! yang teriak2 “Eureka” sambil berbugil ria di jalanan – sesaat setelah nyelup di bak mandi.

Mungkin kita masih ingat pelajaran IPA waktu SD/SMP dulu, bagaimana Archimedes disuruh menilai apakah mahkota raja asli atau campuran.

Mahkota raja kan nggak boleh dirusak. Tapi harus diuji apakah 100% terbuat dari emas – atau ada emas yang dikorupsi oleh pembuatnya.

Bingung bagaimana memeriksanya – Archimedes suatu pagi masuk ke bak mandi yg terisi penuh. Ia melihat air tumpah setelah ia masuk.

Ia berpikir bahwa volume air yg tumpah itu kalau dikumpulkan – akan sebanding dg volume tubuhnya yg masuk ke air. Itu kuncinya.

Dengan mengukur volume air yg tertumpah saat mahkota dicelup ke dlm air – dibandingkan dengan logam emas dlm volume yg sama, maka…

… Archimedes akan bisa tahu persis apakah mahkota itu 100% terbuat dr emas – ataukah ada bagiannya yg tidak dibuat dari emas.

Atas penemuan ini, Archimedes tidak jadi mandi… Ia ber-teriak2 “Eureka..!” (“Saya menemukannya..!”) sambil berlarian di jalan…

Saking gembiranya… Archimedes sampai lupa berpakaian. (Bayangkan kalau Archimedes hidup di Arab Saudi atau kalau ia seorang perempuan)

Untunglah Archimedes hidup di Syracuse – sebuah koloni Yunani yg lebih pentingkan akal sehat ketimbang telanjang atau tidak…

Dan ternyata saat metode Archimedes digunakan utk mengukur volume mahkota – air yg tumpah tidak sama dg volume emas pembuatnya.

Itu berarti mahkota tersebut tdk 100% emas – melainkan sudah dicampur dg logam lain. Si pembuat mahkota akhirnya mengakui & dihukum.

Dulu saat bekerja di Radio Oz Bandung semasa mahasiswa, saya membuat acara bertema Iptek dg nama “Oz Eureka” – terinspirasi Archimedes.

Oh ya? kayak Archimedes? “@wibiarie: Sampe skrg,tes kadar emas murni (LM) masi dgn dicelup d air lalu ditimbang utk mendptkan berat jenis”

Dari tadi banyak yg tanya bangsa Lydia hidup di mana. Mereka berasal dari suatu daerah di Asia Minor (sekarang Turki). Keturunan Yunani.

Iya. Dia kelayapan ke mana2 “@endalayukallo: yg bocorin Herodotus .:-) . Tp Lydia mulai pake coin emas (& jg perak) abad ke 7 BCE @Ce_Ce_

Iya, via Berat Jenis. @toniprihadi: kalau mahkotanya di campur ama logam lain ga ketauan ya ?. ketauan kalo mahkotanya dikurangi emasnya.

Berat jenis emas adalah 19,3 kali air. Perak sekitar setengahnya. Jadi emas 1 kg volumenya akan cuma 1/2-nya perak seberat 1 kg.

Jadi kalau mahkotanya emas murni – maka volumenya akan X cm3. Kalau ternyata campuran dg perak – volumenya akan lebih besar dari X cm3.

Apakah ada bahan yg berat jenisnya hampir sama dg emas? Uranium & Wolfram. Lebih dr emas? juga ada yaitu: Platinum, Iridium & Osminum.

Tapi karena di jaman Archimedes org belum dikenal logam2 tadi – maka mahkota dicampur dg bahan2 yg berat jenisnya lebih kecil dari emas.

Dan karena itulah maka si tukang pembuat mahkota bisa ketahuan sudah melakukan korupsi saat membuat mahkota.

Oh iya, emas yg ada di medali kejuaraan tidak 100% emas. Untuk yg di Olimpiade saja kandungannya cuma 6 gram emas. Sisanya logam lain.

Saat ini baru ada dijual di luar negeri. Amerika, India, Korea. “@diankarina: bang, emas ETF yg di kultwit kemarin bisa dibeli di mana?”

Hehehe itu Stephen Wolfram… @tigorsiagian: Wolfram bukannya pencipta software Mathematica utk komputasi simbolik?🙂

Kalau bahasa Inggrisnya – Tungsten. Bahan yg ada di dlm lampu pijar. @trisetyarso: Baru tau kalo #Wolfram nama material

Dulu saya belajar dari seri buku Time-Life pustaka Ilmu – dan disitu Tungsten disebut Wolfram – jadi saya ikuti penyebutan itu.

 

Posted in: Uncategorized