tentang A380, ex-IPTN, Speedbird9 & Galunggung dari @hotradero

Posted on November 7, 2010

0


Airbus perlu menjual 420 pesawat A380 sebelum bisa impas biaya investasinya. Sekarang baru ada pesanan 234 & 37 yg beroperasi.

Sesudah insiden di atas Batam – apa bisa penjualan Airbus A380 mencapai titik impas? Lalu kapan pabriknya bisa mulai dapat laba?

Teman2 saya di Bristol bercerita: A380 itu besar sekali. DI DALAM pangkal sayapnya – ada ruang cukup untuk org main pingpong

Beberapa dari org yg merakit sayap A380 adalah orang2 Indonesia ex-IPTN yg sekarang bekerja bagi EADS – perusahaan pembuat Airbus.

Dari mereka saya tahu bahwa banyak sekali ahli konstruksi pesawat berkebangsaan Indonesia ex-IPTN yg sekarang tersebar di dunia.

Teknisi ex-IPTN itu bercerita bagaimana semerawutnya manajemen SDM di IPTN. Bisa merancang pesawat tp gagal merancang organisasi.

Iya. Untuk bagian sayap, sebelum dikirim ke Tolouse, Perancis utk dirakit utuh. RT @MelaoKamisama: Bristol lokasi pabrik AirBus?

Gaji para teknisi ex-IPTN itu di EADS sekitar 8-10x lipat gaji mereka di IPTN. Dan mereka rata2 punya kualifikasi internasional.

Pertanyaannya: Bersediakah industri dirgantara Indonesia membayar hasil kerja mereka dengan layak? @danuAja

Maksud saya tadi main pingpong di dalam sayap A380 – ya tentunya ikut pakai meja pingpong ukuran standard. (tuh saking gedenya).

Banyak teknisi IPTN dulu disekolahkan ke luar negeri — lalu pulang tp tdk diberi job-desc yg jelas & gajinya kecil sekali.

Cerita teman2 itu: Banyak ex-IPTN yg bekerja di pabrik Boeing, Embraer Brazil, & Bombardier Canada. Biasanya bagian desain.

“@yanuarnugroho: benar bang. saya 2x naik A380. Besar sekali pesawat itu. Kelas ekonominya saja 10 seats in a row. kayak hotel terbang”

“@dodongc: @MelaoKamisama di pabrik Airbus Bristol itu banyak orang Indonesianya,ada temen seangkatan di sana ada malah yg jd chief engineer

Beda generasi lah🙂 “@anggawirastomo: saya udah pernah naik A380. Emang tuh pesawat gede banget. Tapi tenang banget. Compare ama 747.”

Banyak yg disekolahkan itu biayanya dr bantuan luar negeri. Jadi bukan murni dari kocek-nya IPTN. Makanya gampang diterlantarkan. @dstary

Bristol dari dulu kota industri aeronautika-nya Inggris. Pesawat Concorde pertama kali (& terakhir kali) terbang di Bristol.

Concorde didesain oleh Bristol Aeroplane Company (Inggris) & Sud Aviation (Perancis). Lalu kedua perusahaan berubah nama.

Bristol Aeroplane Company merger dg beberapa pabrik pesawat lain – lalu menjadi British Aircraft Corporation, lalu British Aerospace.

Di Perancis: Sud Aviation merger dg Nord Aviation – membentuk Aerospatiale. Maka Concorde dibuat BAC & Aerospatiale.

Pesawat Concorde berhenti diproduksi krn overbudget. Biaya pemeliharaannya juga mahal. Dianggap proyek mercu suar.

Biaya pembuatannya melonjak 6x lipat dari rencana. Sehingga akhirnya cuma 20 yg dibuat 6 diantaranya buat demo di Airshow.

Dan memang Concorde mulai diproduksi di saat yg salah: yaitu di masa ekonomi dunia lesu di awal 1970-an akibat “Oil Shock”.

“@EviDouren: Nimbrung,ya.Bukan sekedar gaji yg jd masalah tp jg jenjang karir&penghargaan mns yg bs diukur dr pengelolaan organisasi.”

Betul. Masalah di IPTN menurut para ex-IPTN adalah jalur karir yg tidak jelas padahal kualifikasi mereka sangat tinggi.

Betul. Concorde akhirnya tidak boleh terbang lagi krn salah satunya jatuh akibat mesinnya terbakar akibat kena potongan besi. @andi_firman

Sesudah peristiwa crash di Airport De Gaulle, Concorde sempat tdk boleh terbang – sebelum diperbolehkan terbang kembali.

Namun sesudah itu ada insiden mesin Concorde terbakar di tengah2 penerbangan, maka reputasi Concorde pun tidak tertolong.

Dan peristiwa terbakarnya mesin Concorde (walau tdk sampai crash) berlangsung saat ekonomi dunia lesu pasca peristiwa WTC 2001.

Orang jadi takut serangan teroris & takut terbang. Volume penumpang turun – sementara biaya pemeliharaan Concorde meningkat.

Maka Concorde pun terpaksa tidak terbang lagi. Ongkos operasionalnya nombok. Penerbangan terakhir ke Bristol Nov. 2003: kembali ke sarang.

Sepertinya iya. “@gm_gm: Membaca ttg IPTN bikin saya sedih. Apakah managemen amburadul itu akibat “complacency” lazim di perusahaan negara?”

“@EviDouren: Hal senada b’laku pd prusahaan u/pengembangan obat.Putra/i terbaik ‘dipaksa’ bekerja di bwh baku kemampuan krn ketdkjlsan tsb”

Inti kisah Concorde adalah: pesawat bagus itu terbunuh dua kali (saat produksi & sesudah beroperasi) krn kondisi ekonomi.

Concorde cuma bisa diproduksi sedikit krn ekonomi lesu di 1970-an. Concorde dipaksa berhenti terbang krn ekonomi lesu di 2001.

Dan kita lihat bagaimana IPTN dibangun & beroperasi sembari mengabaikan siklus ekonomi. Hingga krisis moneter 1998 membunuhnya.

Saat masih kuliah dulu (dan kerja sambilan di perusahaan Internet Provider) – saya sering kedatangan pegawai asing yg kerja di IPTN.

Manajemen (keuangan & administrasi) IPTN banyak diurus tenaga asing – sementara org Indonesia fokus di desain & konstruksi.

Ada org Amerika keturunan Vietnam (namanya Neil Doh) – bekerja di IPTN sambil terheran2: IPTN tdk sediakan tool kit untuknya bekerja.

Dari cerita si Neil ini, saya menangkap bahwa akar masalah di IPTN terkait koordinasi manajemen pendukung industri. Sangat tdk siap.

Mungkin masalah dg kita dulu adlh: fokus pada aspek teknik – melupakan infrastruktur pendukungnya: administrasi, finansial & ekonomi.

Penguasaan aspek teknik dianggap segalanya. Tapi jelas itu tidak cukup. Apa yg berlaku pd Concorde, berlaku juga di IPTN tentunya.

Tapi saya ingat – dulu pesawat British Airways dari Heathrow ke Selandia Baru berdekatan dgn meletusnya Gunung Galunggung.

Pesawat Boeing 747 British Airways itu mati ke empat mesinnya kena abu galunggung di atas Jabar. Terpaksa memutar kembali ke Jakarta.

Pesawat Boeing 747 itu pun harus terbang tanpa tenaga mesin. Disebut oleh buku Guinness Book of Records: “Pesawat layang terberat di dunia”

Dan pilot harus terbang buta – krn jendela pesawat bergurat-gurat terkena abu vulkanik & efek listrik statis abu vulkanik.

Menjelang Jakarta, penerbangan yg disebut Speedbird 9 itu mesinnya hidup kembali sebentar sebelum mati kembali & hidup saat akan mendarat.

Penumpang Speedbird 9 sempat menulis pesan2 terakhir bagi org yg dikasihi – krn mereka tdk yakin penerbangan bisa berakhir selamat.

Mesin mati + Kaca buram (krn tergurat debu vulkanik) = terbang buta tanpa tenaga mesin. Tapi Speedbird 9 akhirnya bisa mendarat di Jakarta.

Pilot Speedbird 9 memperoleh pujian dari Sri Ratu Inggris – dan menjadi pilot teladan. Ex-penumpang & awak bikin: “Galunggung Gliding Club”

Gilanya, sesudah insiden itu – pemerintah Indonesia belum menutup wilayah udara di atas Galunggung. Sempat ada mesin Garuda kemasukan abu.

Dan baru sesudah pesawat Singapore Airlines mati 3 mesin di atas Jawa Barat – wilayah udara Jawa Barat ditutup dr penerbangan.

Pesawat Speedbird 9 (saya cek nama pesawatnya: “City of Edinburgh”) jadi legenda. Pernah diceritakan kembali di saluran TV NatGeo.

Kalau nggak salah iya. Karena disitu lebih sepi. RT @aulrachmann: mendaratnya di halim perdana kusuma ya om

Kebetulan aja kok. Tahun 1982 saat Galunggung meletus – bagi saya (saat itu usia 11 thn) sangat berkesan. Hujan abu di Bandung. @iranasman

“@PakBondan: Sayang sekali Capt. Abdul Rozak yg mendaratkan GA di Bengawan Solo tidak mendapat kehormatan selayaknya. #Speedbird9

Betul, kita mungkin terlalu terpaku pada satu kriteria: orang hanya boleh jadi pahlawan kalau sudah mati.

Trims. “@famins: baca soal Galunggung Gliding Club saya pikir guyon, ternyata itu benar ada. ini ada ceritanya http://goo.gl/QcNS

Para ex-IPTN itu juga cerita bagaimana tingkah laku org Eropa di pabrik pesawat. Yg paling disiplin org Jerman. Yg paling malas? Spanyol.

Setahu saya sih SoeTa baru beroperasi pertengahan 1980-an. RT @gathandoyo: Tahun itu Soeta sdh ada ya pak?

OK Tweeps saya pulang dulu. Tweet ala bajaj (krn nggak jelas beloknya) ttg A380, ex-IPTN, Speedbird9 & Galunggung sudah usai.

Ini ada klarifikasi: “@IndonesiaGaruda: #Speedbird9 Beliau menjadi kebanggaan Garuda dan diterima Presiden di Istana Pak #Capt Abdul Rozak#”

Dulu saya pikir becandaan. Tapi ternyata memang benar, di Spanyol saat jam Siesta – bank pun tutup… Susah nuker duit.😦 @DianOnno

 

Posted in: Uncategorized