kultwit bahasa dari @gm_gm

Posted on November 2, 2010

0


1. Halo. Kita mulai bicara soal bahasa — khususnya bahasa yg kita pakai sekarang. Bahasa Indonesia hari ini. #bhs

2. Yg penting, dan yg patut diingat selalu, bahasa Indonesia bukan bahasa dari kelompok mayoritas di negeri ini. #bhs

3. Bahasa Indonesia — sejak ia disebut bahasa Melayu – sebenarnya ditopang dan dikembangkan dari dan oleh kebhinekaan. #bhs

4. Hampir tiap sub-kultur (Melayu, Minang, Batak, Jawa, Sunda, sampai dgn Papua) ikut menyumbang khasanah bahasa nasional ini. #bhs

5. Jangan lupa peran kalangan Tionghoa. Koran2 dari kalangan sub-kultur ini tak menggunakan bhs Cina. Berbeda dari Malaysia + S’pura. #bhs

6. Kita bangsa yg terdiri dari minoritas2, yg perlu berkomunikasi dgn lancar, bebas, setara. Bhs Indonesia siap utk itu, sejak dulu. #bhs

7. Itu sebabnya bhs Indonesia, sebuah bangunan”hibrida”, banyak dan gampang menyerap kata-kata baru, dari mana saja. #bhs

8. Problem yg kini semakin terasa: dalam mengasimilasi kata baru, dari “luar”, kita trenyata tak punya sistem dan metode yg jelas. #bhs

9. Ini terjadi ketika warisan bahasa Belanda sedang didesak oleh pengaruh bhs Inggris. Contoh: “politisi” dan “musisi”. #bhs

10. “Politisi”, menurut warisan Belanda, adalah bentuk jamak dari “politikus” (pengaruh Latin!). “Musisi”: bentuk jamak “musikus”. #bhs

11. Tapi dgn makin derasnya pengaruh Inggris, “politisi” kini bisa bentuk tunggal, dari kata “politician”. Juga “musisi — “musician”. #bhs

12. Mana yang akan kita pakai, hal ini belum diputuskan. Siapa yg memutuskan? Di Indonesia ada Pusat Bahasa sebenarnya. #bhs

13. Pusat Bahasa seharusnya jadi wasit; dgn menyusun kamus dan menyebarluaskan istilah2 baru. Tapi sejauh ini, Pusat ini tak efektif. #bhs

14. “Pusat Bahasa” seperti terisolir. Para pakar bahasanya jadi birokrat yg tak melihat bhw penyebaran bahasa butuh enersi lain. #bhs

15. Enersi lain itu: menggalang dukungan dan kerjasama dgn media massa, juga para pengambil keputusan di negeri ini. #bhs

16. Akibatnya kini media massa itulah yg pegang hegemoni dlm pembentukan bahasa kita. Sayangnya, tak semua media massa sadar itu. #bhs

17. Memang ada pemberian penghargaan kepada media dgn bahasa Indonesia terbaik. Tapi agaknya baru terbatas pada media cetak. #bhs

18. Padahal peran media cetak makin merosot. TV jadi sumber informasi utama orang Indonesia. Tapi di TV, bhs Indonesia disepelekan. #bhs

19. Para reporter TV adalah korban pendidikan bhs Indonesia yg salah di sekolah. Tak ada latihan berbahasa lisan yg baik. (pidato, debat).

20. Ketika reportase TV makin bisa langsung dan cepat, makin kedodoran-lah penggunaan bhs Indonesia di sana. #bhs

21. Dan tak hanya para reporter, tapi juga para peserta “talk-show”. Tak tampak paparan yg teratur, jernih, jelas. #bhs

22. Banyak bahasa Inggris digunakan. Misalnya kata “talk-show” itu sendiri. Kini ada TV yg memasang” “Pray for Indonesia”. #bhs

23. Tak perlu fanatik dgn kemurnian bahasa. Tapi penggunaan bhs Inggris yg tak perlu adalah tanda (1) sok, (2) kemalasan menerjemah. #bhs

24. Kadang2 kita perlu mengekspresikan pikiran dan perasaan kita dlm bahasa Inggris. Juga di sini sering. Itu bisa pas dan bagus. #bhs

25. Tapi yg menyedihkan: sementara bhs Indonesia lemah, bhs Inggris yg dipakai salah. Seakan-akan tak perlu “berhati-hati” dlm bhs. #bhs

26. Lebih menyedihkan (atau menggelikan) jika ada kata yg seakan-akan dari bhs Inggris, tapi dengan bentukan yg keliru sekali. #bhs

27. Misalnya, ada yg memakai kata “solutif”. Maunya membentuk kita sifat dari kata “solusi”, yg asalnya bhs Inggris: solusi…Hmm. #bhs

28. Yg kini lebih umum: “emosi”. Ini kata benda, yg mendadak jadi kata sifat: “Saya sedang emosi, nih”. Harusnya” emosional”. #bhs

29. Tentu bisa dipersoalkan: siapa yg menentukan salah dan benar? Terutama jika tak ada wasit? #bhs

30. Tak ada wasit, tapi bahasa lahir dari kesepakatan sosial. Kesepakatan perlu patokan yg disepakati. Itu perlunya tatabahasa. #bhs

31. Tata bahasa juga selalu dinegosiasikan. Bisa diubah. Tapi yg lebih penting, “berhati-hati” dlm memakai bahasa. #bhs

32. Ketika kita memilih kata “solutif”, kita seharusnya memeriksa, dari mana kata ini. Dan kita analisa, apa saja yg membentuknya. #bhs

33. Bersikap hati-hati, atau lebih tepat bersikap analitis, dlm membentuk kata, sangat penting utk mengembangkan kemampuan analitis. #bhs

34. Kemampuan analitis dlm bahasa akan membantu kemampuan analitis untuk matematika, filsafat dan pengkalimatan hukum.. #bhs

35. Untuk mengembangkan kemampuan analitis dlm berbahasa itu, kita perlu memperkuat tradisi bahasa tertulis. #bhs

36. Adanya Twitter, Facebook, e-mail, blog, bisa mengembalikan atau menumbuhkan kapasitas bahasa tulisan itu. Kita layak menyambutnya. #bhs

37. Dgn kapasitas analitis, kita bisa memeriksa bagaimana bentukan kata dan asimilasi kata dari bahasa asing sebaiknya dilakukan. #bhs

38. Misalnya, perlukah kita menerapkan bentukan bhs Inggris seperti “Habermasian” (mengikuti filsafat Habermas”)? #bhs

39. Sejauh mana kita bisa memakai akhiran “ian” ini? Ada yg setengah bergurau: pengikut paham Gus Dur disebut “Gus Durian”! #bhs

40. Sebaiknya ada kesepakatan, dgn arguemtasi yg jelas. Tak asal nyrocos, tak asal kuat suara. Media massa perlu aktif di sini. #bhs

41. Tapi seriuskah media massa utk merawat dan mengembangkan bhs Indonesia — yg sebenarnya bahan pokok produksi informasi dan hiburan?#bhs

42. Yg saya tahu, di majalah dan Koran Tempo ada “Redaktur Bahasa”. Posisinya langsung di bawah Pemimpin Redaksi. #bhs

43. Tugas Redaktur Bahasa: memperbaiki kesesalahan bahasa siapa saja yg menulis di Tempo. Tulisan saya juga bisa dikoreksi mereka. #bhs

44. Redaktur Bahasa juga meletakkan panduan. Menulis “merubah” itu salah, sebab kata dasarnya “ubah”, bukan “rubah”. #bhs

45. Redaktur Bahasa selalu berembug dgn para redaksi, utk memperkenalkan kata baru. Kata “santai”, misalnya, itu dari Tempo. #bhs

46. Sebagai tambahan: kata itu kalau tak salah dari bahasa Komering. #bhs

47. Selain membentuk kesepakatan aturan mengeja dan membentuk kata, memperkaya kosa kata Indonesia juga penting. #bhs

48. Dengan demikian, sikap analitis berbahasa juga disertai sikap kreatif dan inovatif: keduanya akan berguna bahkan di luar bahasa. #bhs

49. Memperkaya kosa kata juga memperbanyak sinonim, dan itu akan membuat tulisan kita tak memakai kata yang itu-itu belaka. #bhs

50. Sebab itu, saya setuju kita misalnya memakai kata “Cina” dan juga kata”Tionghoa”, “shalat” dan juga “sembahyang”, dst. #bhs

51. Kita tak perlu menyempitkan bahasa dgn semangat politik identitas. Bahasa lebih terbuka & dinamis ketimbang hanya untuk politik.#bhs

Begitulah sedikit pandangan saya tentang bahasa. Kul-twit ini sekedar utk mengajak agar kita lebih serius dlm menghidupkan bhs kita. #bhs

Tagged: , ,
Posted in: Uncategorized