tentang Diderot dan Ensiklopedia dari @gm_gm

Posted on October 11, 2010

0


Pengumuman: Kul-Twit mulai. Krn ini di-twit sambil menyiapkan Opera Tan Malaka, jalannya akan padat merayap.#ens

2. Tan Malaka ingin mengubah bangsa Indonesia jadi yakin pd “ilmu bukti” bukan mithos. Sama dgn hasrat kaum “ensiklopedis” abad ke-18.#ens

3. Para “ensiklopedis” lahir di Prancis, tapi ensiklopedia pertama terbit di Inggris th 1728. #ens

4. Judulnya “Cyclopedia or an Universal Dictionary of Arts & Sciences” oleh Chambers. Th 1743, diusahakan diterjemahkan ke bhs Prancis. #ens

5. Tokoh utama dlm usaha ini adalah Denis Diderot. Riwayatnya pernah saya singgung dlm Kul-Twit ttg Voltaire tempo hari. #ens

6. Ia, yg lahir 5 Okt 1713 di satu kota kecil sekitar 55 km dari Dijon, kelak jadi salah satu tokoh pemikiran baru yg bentrok dgn agama.#ens

7. Maaf, jeda dulu. Nanti malam saya sambung lagi. Akan lebih lancar. Insya Allah.

8. Kul-twit disambung. Diderot, yg kelak akan berbenturan dgn agama, dibesarkan di keluarga Katolik yg salih. #ens

9. Ayahnya pernah bilang kpd Denis: “Anakku, akal itu bantal yg bagus, tapi kepalaku lebih tenang terletak di atas agama dan hukum”. #ens

10. Kakaknya jadi pastur, adik perempuannya biarawati. Denis sendiri bersiap pakai baju rohaniawan. Ia masuk sekolah Jesuit. #ens

12. Di th 1732, ia dpt gelar master di College Jesuit Louis-le-Grand. Tapi di Paris ini ia makin jauh dari agama. Ia batal jadi padri. #ens

13. Setelah kerja sebentar di kantor advokat, ia kerja serabutan. Tapi ia belajar terus: matematika, Latin , Yunani, dst. #ens

14. Ia jatuh cinta kpd Antoinette Champion yg lebih tua, dan kisah cintanya cukup dramatis. Tapi lebih baik saya bicara ttg filsafatnya.#ens

15. Sejak lama ia tertarik filsafat. Tapi yg memukaunya adalah esei2 Montaigne, yg menggugat kepastian dan memakai sumber2 “kafir”. #ens

16. Maka ia pun ikut menelaah pemikiran Yunani dan Romawi. Ia juga mengenal betul karya2 Inggris, dan tergugah oleh Francis Bacon. #ens

17.Bacon mengimbau agar manusia menaklukkan alam dgn riset ilmiah yg sistematik dan memujikan eksperimen keilmuan. #ens

18. Kelak, sbg tokoh penyusun “Encyclopédie”, Diderot mengikuti imbauan Bacon. Ia ikut kuliah biologi, ilmu faal, kedokteran, kimia. #ens

19. Dari ini ia menjadi, spt Voltaire, seorang “deist”: percaya kpd Tuhan tapi menolak agama. Tuhannya berbeda dari Alkitab. #ens

20. Baginya, Tuhan yg diajarkan agama terlalu sempit. “Élargissez Dieu!”, serunya. Luaskan dan bebaskan Tuhan dari kesempitan agama. #ens

21. Buku Diderot, “Pensées philopopihques”, (1746), dianggap radikal. Parlemen Paris memerintahkan buku itu dibakar. Malah jadi laris. #ens

22. Sejak dibakar Juli 1746, buku itu diterjemahkan ke bhs Jerman dan Itali. Dan Diderot siapkan buku baru, “Promenade du sceptique”. #ens

23. Polisi pun datang. Diderot berjanji batalkan penerbitannya. Baru di th 1830 buku itu beredar. Tapi itu bukan kontroversi terakhir. #ens

24. Di th 1740, terbit “Lettre sur les aveugles…”, ttg seorang penanam anggur yg buta. Bagi Diderot, baik dan buruk bukan dr Tuhan. #ens

25. Bahkan, kesimpulan buku itu, adanya Tuhan meragukan. Maka Diderot pun ditangkap, dipenjarakan di Vicenne, di luar Paris. #ens

26. Di sel sempit itu, ia hanya boleh bawa satu buku yg kebetulan ada di sakunya waktu ditangkap: “Paradise Lost” karya Milton. #ens

27. Tapi ia bisa menulis di halaman kosong buku itu: memakai tusuk gigi untuk pena, tintanya guguran tembok yg ia campur dgn anggur. #ens

28. Setelah tiga bulan disekap, dan dipaksa berjanji utk tak menulis karya yg mengingkari Tuhan, Diderot dibebaskan, Nopember 1749. #ens

29. Beberapa bulan kemudian, 1750, ia memulai menyiapkan terbitnya “Encyclopédie”. Karya yg hanya bisa terbit “di abad falsafi.# #ens

30. Ttg Diderot, saya akan berhenti di sini. Ttg “Encyclopédie” akan saya kisahkan besok. Sekarang ada tugas utk Komunitas Salihara. #ens

Nah, Kul-Twit mulai lagi (bisa dibaca di tengah kemacetan, kalau anda tak naik motor). Kita kembali ke tahun 1746 Prancis. #ens

1. Para penyusun “Encyclopédie “, terutama Diderot, adalah pembawa semangat ilmu dan rasionalitas — yg sering bertabrakan dgn Gereja. #ens

2. Nopember 1750, 8000 lembar prospektus disebar utk cari dukungan buat proyek besar ini. Penulis prospektus: Diderot. #ens

3. Kata “encyclopédie” secara harfiah berarti “pengajaran” yang dihimpun dlm sebuah lingkaran. Khususnya, pengajaran ilmu-ilmu. #ens

4. Dlm prospektus disebut oleh Diderot: “Kata ensiklopedia menandai saling hubungan antara ilmu-ilmu”. #ens

5. Ilmu2 telah berkembang hebat, kata Diderot; kebutuhan utk menyebarkannya mendesak. Ilmu yg tak dibagikan tak akan berguna. #ens

6. Maka “Encyclopédie” akan menyusun ringkasan ilmu dlm 8 jilid. Proyek akan selesai dalam 2 tahun. Diimbau agar orang berlengganan. #ens

7. Sambutan ternyata ramai, terutama dari kelas menengah atas. Ini penting: dunia ilmu dan sastra bisa mandiri dr kelas aristokrasi. #ens

8. Dulu, karya sastra d.l.l. dibeayai para bangsawan dan dipersembahkan kpd mereka. Proyek “Encyclopédie” tidak lagi. Tanda perubahan. #ens

9. “Encyclopédie” juga menandai perubahan lain. Orang tak lagi tenang berbantalkan “agama + hukum”, tapi mulai memilih rasio. #ens

11. Jilid pertama “Encyclopédie” terbit 28 Juni 1751. Bentuknya tak sama dgn ensiklopedia yg kita kenal sekarang. #ens

12. Di dlm jilid pertama itu, tak ada biografi & sejarah. Malah agak mirip kamus: menjelaskan istilah, sinonim dan tatabahasa. #ens

13. Dlm jilid pertama itu ada esei D’Alembert. Ia dipilih krn ia ilmuwan utama dan penulis prosa yg ulung – seorang agnostik yg hati2 #ens

14. Ia hrs hati2 karena takut sensor dari pemuka agama. Ia tak bisa berterus terang. Ia malah tulis bhw agama mengajarkan banyak hal. #ens

15. Tapi kpd Voltaire ia kemudian menulis: “Waktu akan mengajar orang utk membedakan apa yg kita pikirkan dari apa yg kita utarakan”. #ens

16. Itu sebabnya jilid I “Encyclopédie” tak menyerang agama. Maka kalangan Jesuit menyambutnya hangat. Tapi masih ada yg curiga. #ens

17. Seorang mantan uskup melapor ke Raja, bhw para penulis “Encyclopédie” telah menipu sensor kerajaan. #ens

18. Raja Louis pun mengirim jilid I itu ke Malesherbes, juru sensor kerajaan yg pangkatnya disebut “directeur de la librarie”. #ens

19. Malesherbes sendiri juru sensor yg lunak. Ia bahkan pernah menulis buku ttg kemerdekaan pers. Pendapatnya mengejutkan. #ens

20. “Seorang yg hanya membaca buku2 yg..terbit dgn izin pemerintah”, tulisnya, “akan nyaris tertinggal seabad dari orang2 semasanya”. #ens

21. Maka “Encyclopédie” jilid I selamat. Tapi hidup tak mudah bagi jilid2 berikutnya. Dimulai dgn Jilid II, Januari 1752. #ens

22. Dlm jilid ini ada tulisan Jean Martin Prades. Ia seorang rohaniawan muda yg tahun sebelumnya menghebohkan Universitas Sorbonne. #ens

23. Prades memajukan sebuah tesis yg menunjukkan kacaunya kronologi Alkitab dan memperkenalkan satu theologi liberal. #ens

24. Tesisnya diterima. Prades dpt gelar doktor. Tapi para agamawan di Parlemen Paris marah. Gelar hrs dicabut. Prades hrs ditangkap. #ens

25. Universitas Sorbonne tak berani melawan. Gelar doktor bagi Prades dicabut. Orangnya melarikan diri ke Prusia. #ens

26. Di bawah kekuasaan tokoh2 agama, kemerdekaan akademi dan kebebasan berpikir dan mengutarakan pikiran dianggap berbahaya. #ens

27. Maka ketika di jilid II “Encyclopédie” ada esei Prades, para pembesar Gereja pun mengamuk. Uskup Agung Paris melarangnya. #ens

28. Diderot sendirti tak ditangkap. Tapi semua bahan utk penerbitan berikutnya disita negara. #ens

29. Juru Sensor yg baik, Malesherbes tak berdaya. Tapi ia bersama orang2 lain minta agar proyek “Encyclopédie” diijinkan kembali. #ens

30. Ijin diberikan. Tapi Jilid III s/d VI terbit dgn sensor ketat. Tapi bisakah rasa ingin tahu manusia dicegah oleh para wakil Tuhan? #ens

31. Meskipun dihambat oleh yg berkuasa, “Encyclopédie” memperoleh lebih banyak pelanggan. Sampai di atas 4000 orang. #ens

32. Bahkan para penyumbang makin banyak. Termasuk Voltaire. Diderot sendiri menulis satu esei penting ttg ensiklopedia utk Jilid VI. #ens

33. Diceritakannya kembali susah-payah melanjutkan proyek ini. Dana cepak, para penulis hrs kerja sampai sakit. #ens

34. Tapi Jilid VII malah dapat serangan paling dahsyat. Dlm jilid ini, ada tulisan Louis de Jaucourt yg mengecam keadaan Prancis. #ens

35. Ia gambarkan Prancis sbg negeri yg dirundung kemiskinan petani, dan ketimpangan sosial yg ekstrim. #ens

36. Tapi yg paling menyengat adalah rtulisan D’Alembert yg membandingkan Geraja Katolik dan Protstan ala Calvin di Jenewa. #ens

37. Syahdan, 5 Januari 1757 ada usaha pembunuhan atas Raja. Penguasa pun memberlakukan lagi aturan lama yg sangat represif. #ens

38. Dlm peraturan ini, para penerbit, penulis, dan penjual buku2 yg menyerang agama dan kerajaan akan dihukum mati. #ens

39. Beberapa penulis ditangkap. D’Ambert ketakutan, tak mau ikut bikin “Encyclopédie” lagi. Voltaire usul agar proyek ini dihentikan. #ens

40. Diderot belum mau menyerah. Tapi 23 Januari 1759, wakil raja memberi tahu Parlemen ttg adanya “proyek yg akan menghancurkan agama”. #ens

42. Tgl 8 Maret 1759, “Encyclopédie” secara resmi dilarang. Agama dan moral dianggap akan rusak berat oleh proyek pencerahan itu. #ens

43. Tapi orang spt Diderot tak menyerah, meskipun sedih. Ia menyiapkan 9 jilid tambahan “Encyclopédie”, hingga akhirnya ia kecapekan. #ens

44. Bagaimanapun, jauh sebelum ada Kul-Twit, ia tahu perlunya manusia berbagi ilmu pengetahuan dan kegiatan berpikir bagi peradaban. #ens

45. Ia juga saksi zaman baru, ketika agama tak bisa hilang dari hidup manusia – tapi tak bisa lagi jadi satu2-nya jawab ttg kebenaran. #ens

46. Dengan itu, Kul-Twit saya akhiri. Maaf kalau ada kesalahan eja, nomor dan pendapat. Kul-twit juga hrs berbagi semangat untuk koreksi.

Posted in: Uncategorized