#selfpublishing from @benzbara

Posted on October 4, 2010

1


jd, awal mulanya dulu pernah coba ngirim naskah novel ke Gramedia. Dan sesuai dugaan, 6 bln kmudian dpt surat penolakan. :)) #selfpublishing

lalu mulai giat nulis lagi pertengahan 2007, cuma lebih fokus ke puisi. Sampailah terus nulis sampe pertengahan 2009. #selfpublishing

sepanjang kurun waktu itu alhamdulillah beberapa tulisan sempat dimuat di beberapa harian lokal, nasional, dan majalah seni. #selfpublishing

sampailah beberapa orang temen dan beberapa sastrawan nyeletuk kalimat yang sejenis, “Terbitkanlah bukumu, kawan.” #selfpublishing

waktu itu saya mikir, mau submit naskah puisi ke penerbit mana? #selfpublishing

Gramedia? Sejauh ini yg saya lihat cuma nerbitin buku2 sastra (kumpulan puisi/kumcer/novel) dari nama-nama yg sudah “besar”. #selfpublishing

kalaupun ada nama yg bukan “besar” yg diterbitkan oleh Gramedia, biasanya itu pemenang sayembara novel atau yg semacamnya. #selfpublishing

dan, itupun Novel. Atau minimal Kumcer. Puisi? Nah. Kalau belum punya nama dan eksis puluhan tahun, jangan pernah ngarep. #selfpublishing

sama halnya dengan penerbit-penerbit “major” lain. Seperti Gagas, Grasindo, KPG, KOMPAS, dll. #selfpublshing

setelah berapa lama, terdengarlah nama penerbit “Omahsore”. Berawal dari terbitnya buku bbrp sastrawan lewat penerbit itu. #selfpublishing

dan salah dua orang penyair pun sempat bilang ke saya, “Kenapa nggak coba terbitin lewat sana aja? Kan sistemnya POD.” #selfpublishing

“POD?” | “Itu, Print-On-Demand. Jadi kita nyetak buku sesuai budget aja. Adanya duit berapa, bisa dicetak.” saya ngangguk2. #selfpublishing

sebenernya #selfpublshing yg ingin sy ceritain di sini yg pake POD. Soalnya ad jg penerbit konvensional, dan istilahnya jg #selfpublishing

penerbit konvensional itu yang kalo mau nerbitin ada minimal ordernya. Biasanya 500 – 1000 eksemplar dgn ongkos 5 – 15 juta. #selfpublishing

bayangin doonkk.. Dapet duit dari mana eyke mau bikin buku sampe 5, 10 juta? Jual diri?? Jadi gigolo aja masih amatiran. #eh #selfpublishing

nah, penerbit “indie” yg pake sistem POD ini benar-benar jadi solusi utk permasalahan dana. Karena nggak pake minimal order. #selfpublishing

memang sistem POD jatuhnya per biji jadi lebih mahal. Perbandingan: Konvensional 500 eks = 5 juta. POD 100 eks = 1.8 juta. #selfpublishing

tapi sistem POD enaknya ya itu, nggak harus nyetak sampe 100 eksemplar langsung. Cuma nyetak 1 eksemplar aja boleh lho! =D #selfpublishing

jadi penerbit dgn sistem POD membantu banget untuk yg pengen punya buku tapi nggak punya dana banyak.πŸ™‚ #selfpublishing

hal berikutnya yg perlu diperhatikan yakni soal pemasaran. Karena dgn POD nyetaknya nggak banyak, jd cara jualnya jg beda. #selfpublishing

kalau penerbit konvensional kan nyetaknya banyak (500 – 1000 eks) dan mereka memasukkan buku-buku terbitannya ke toko-toko. #selfpublishing

kalau penerbit dgn sistem POD otomatis sulit mau masukin buku ke toko karena stoknya sedikit. #selfpublishing

jadi satu-satunya cara jualan bukunya yakni “bergerilya”. =D Promosi dari mulut ke mulut, dan memanfaatkan jejaring sosial. #selfpublishing

jalur jualan paling ampuh yakni dtg k event komunitas sastra. Dtg ke launching buku/diskusi sastra, bawa barang dagangan.πŸ˜€ #selfpublishing

atau seperti sy, waktu itu sy memutuskan bikin buku karena udah lumayan banyak yg pesan. Jd begitu cetak langsung ludes.πŸ˜€ #selfpublishing

itu salah satu trik. Jd kalau mau nyetak lagi, pastikan udah ada yg pesan. Jadinya enak modal produksi langsung balik.πŸ˜€ #selfpublishing

modal awal untuk nerbitin buku lewat penerbit dgn sistem POD biasanya ada 2 macam: 1. Desain/Layout, 2. Produksi. #selfpublishing

modal untuk Produksi udah dijelaskan tadi. Nah modal untuk ongkos Desain/Layout ini biasanya berkisar antara 500-650 ribu. #selfpublishing

dari fee untuk Desain/Layout inilah penerbit-penerbit dengan sistem POD itu mendapatkan “jaminan” pemasukannya. #selfpublishing

ongkos Desain + Layout ini pun bisa diakalin lagi.πŸ˜€ Klo kmu bs desain, bikin aj kover bukumu sendiri. Ongkosnya berkurang. #selfpublishing

ongkos Desain+Layout yg tdnya 650rb, bisa ditekan sampai 500rb. Udah bisa dihitung kan brp modal minimal buat bikin buku?πŸ™‚ #selfpublishing

lebih rinci lg ttg ongkos Produksi. Ongkos Produksi buku tergantung: 1. Ukuran, 2. Jenis kertas kover, 3. Jenis kertas isi. #selfpublishing

tau kertas yang biasa dipakai Gramedia? Yang warnanya rada kuning dan buram itu? Itu jenis kertas paling bagus + mahal.πŸ˜€ #selfpublishing

kalau jenis kertas kover umumnya ada 2 macam. Yg doff (kasar, CMIIW istilahnya ya), dan yg glossy (licin). Doff yg mahal. #selfpublishing

kalau ukuran udah jelas, semakin besar semakin mahal.πŸ˜€ #selfpublishing

oh ya satu lg, Jumlah Halaman! Biasanya sampai 100 hal lebih dikit harganya sama. Tp kalau sampai 200 jelas nambah ongkos. #selfpublishing

nah, sbg bayangan, buku saya: 120 hal (termasuk kover), kertas kuning-buram, kover doff, 13.5 x 20 cm. Ongkos @ Rp. 22.500. #selfpublishing

jadi kalo pake contoh buku saya, ongkos minimal untuk bikin 1 eksemplar buku adalah: Rp. 500 rb + Rp. 22.500 = Rp. 522.500,- #selfpublishing

anggap deh mau nyetak 10 eksemplar = Rp. 225.000. Jadi ongkosnya cm Rp. 725.000,- . Bandingkan dgn penerbit konvensional! =D #selfpublishing

Oke, selesai dengan hitung-hitungan, kita pindah ke masalah lain yang juga perlu diperhatikan. Yakni soal: Kualitas! #selfpublishing

penerbit “mainstream” seperti Gramedia, Gagas, KPG, KOMPAS, dll punya Editor dan Proof-reader nya. Penerbit “indie”? Nggak! #selfpublishing

jadi selain sbg penulis dan pemilik naskah, kita juga dituntut berperan sbg Editor + Proof-reader untuk naskah kita sendiri. #selfpublishing

emang sih saat dilayout nanti jika ditemukan kesalahan pasti diperbaiki oleh layouternya, tp itu sifatnya minor-editing. #selfpublishing

yg benar2 bertanggungjawab atas kualitas dan “kebersihan” naskah kt ya kt sendiri. Jd perhatikan betul sblm disubmit, kay! #selfpublishing

perlu diperhatikan juga soal, err.. Gmn ya ngomongnya. Gini deh, jgn buru-buru bikin buku kalo tulisan kita masih pas-pasan. #selfpublishing

bukan artinya tlsn sy bagus lho, bukan. Tp wkt itu sy memutuskan utk bkn buku jg kebetulan krn bbrp tlsn ud dimuat d media. #selfpublishing

jd, klopun kesempatan utk bikin buku sendiri itu sgt mudah dan terbuka lebar, sy ga akan bikin klo saat itu blm prnh dimuat. #selfpublishing

tapi bukan berarti dimuat di media itu satu-satunya ukuran bahwa tulisanmu bagus ya. Itu persoalan lain. #selfpublishing

intinya yg mau saya blg adalah, Walaupun bikin buku sendiri itu mudah + murah, jangan serta-merta “menggampangkan” karyamu. #selfpublishing

anggaplah bukumu itu “album emas” kamu. Debut kamu. Gak mau kan kualitasnya se-alakadar-nya. Yang maksimal donk. #selfpublishing

nah, akhirnya.. Selamat berkarya deh. =D Semoga ocehan saya seputar pengalaman pribadi #selfpublishing ini cukup membantu ya. Arigato! =D

lanjut ya

jadi yang belum sempet tersinggung tadi soal Kontrak dan After-sale nya. ~(‘.’~) (~’.’)~ #selfpublishing

kalo Kontrak sih sebenernya bukan cuma di penerbit “indie” aja, penerbit “mainstream” juga pasti ngatur soal Kontrak. #selfpublishing

oh ya drpd bahas soal Kontrak yg pasti semua penerbit ada aturannya, mending cerita Prosedur nerbitin naskahnya aja ya.πŸ™‚ #selfpublishing

pertama, tentu udah harus kontek-kontekan dgn penerbitnya buat tanya-tanya ini-itu. #selfpublishing

lalu, siapkan naskahnya. Pastikan udah bersih, rapi, dan lengkap. Krn ini era digital, jd lgsg kirim naskahnya lewat e-mail. #selfpublishing

setelah naskah diterima, penerbit akan melakukan proses layout. Layout nggak lama kok, nggak sampe 3 hari udah selesai. #selfpublishing

hasil layout akan dikasih liat ke kita, bisa dikirim lewat e-mail, kalo memungkinkan lebih enak ketemuan. #selfpublishing

setelah kita koreksi layout (jika ada kesalahan/kurang memuaskan), berikutnya adalah ngobrolin desain kover. #selfpublishing

kalau kemarin kebetulan saya desain sendiri, tapi tetap disupervisi sama penerbitnya. Biar lebih pas dan rapi. #selfpublishing

setelah desain kover beres + hasil layout udah oke, berikutnya ngobrolin soal ukuran buku + jenis kertas (kover & isi). #selfpublishing

jangan lupa, ukuran buku + jenis kertas ini menentukan ongkos produksi, dan selanjutnya mempengaruhi harga jual buku kamu. #selfpublishing

setelah semuanya beres (layout isi – kover – ukuran – kertas), tahap berikutnya adalah mencetak dummy. Ini urusan penerbit. #selfpublishing

oh ya “Dummy” = buku contoh. Biasanya kamu bakal dapet 2 buku dummy. #selfpublishing

tp biasanya kalo dummy yg pertama udah dikoreksi, ya dummy kedua gak perlu lagi kan. Langsung aja naik cetak, kan udah oke. #selfpublishing

nah setelah dapat dummy, tahap berikutnya adalah yang paling ditunggu-tunggu. Eng ing eengg…. NAIK CETAAKK! #tiupterompet #selfpublishing

proses Produksi akan segera dilakukan oleh penerbit begitu kita menyelesaikan transfer ongkos produksinya. #selfpublishing

proses produksi biasanya paling lama 2 minggu. Tp tergantung jg kalau percetakannya lg kebanjiran order bisa sampai sebulan. #selfpublishing

nah ttg Prosedur sudah beres, stlh buku selesai dicetak ya tinggal dijual deh.πŸ˜€ Skrg mundur dikit ke persoalan Kontrak. #selfpublishing

kesepakatan Kontrak dilakukan sebelum buku naik cetak (maap tadi lupa nyangkut :D). Dilakukan via e-mail. #selfpublishing

banyak poin di dalam kesepakatan itu, tp yg perlu dicermati tentu a/ poin tentang Honor penulis.πŸ˜€ #selfpublishing

umumnya perihal Honor ini dibagi jadi 2 macam: sistem Beli-Putus atau sistem Kontrak (CMIIW, lupa istilah persisnya). #selfpublishing

Beli-Putus: kamu dibayar sekian Rupiah untuk buku kamu, jumlahnya besar, tapi cuma dibayar SEKALI. Namanya aja Beli-Putus. #selfpublishing

kerugian Beli-Putus: kmu gak akan dapat fee lg dr tiap buku kamu yg laku. Kalo buku kmu jd Best-Seller, bakal rugi besar.πŸ˜€ #selfpublishing

Kontrak (bukan beli-putus): kamu dibayar sesuai dengan jumlah buku kamu yang terjual. #selfpublishing

Prosedur udah. Kontrak udah. Sekarang cerita tentang enak-nggaknya nerbitin buku sendiri.πŸ˜€ #selfpublishing

Nggak enaknya, krn stok sedikit jd buku kita nggak “ngeksis” di toko-toko buku. Kesannya ya agak kurang “tenar” gitu deh.πŸ˜€ #selfpublishing

gak enaknya lg, krn gak terdistribusi ke toko-toko jd promosi pun harus mandiri dan jor-joran. Tp dibawa seneng aja.πŸ˜€ #selfpublishing

Nah enaknya, terutama dan paling utama ya itu tadi: Murah dan Mudahnya menerbitkan buku sendiri.πŸ˜€ #selfpublishing

dan enaknya jg, krn bukunya kita sendiri yg jual (penerbit jg jual), laporan hasil penjualan transparan, jd sama-sama enak. #selfpublishing

beda dengan penerbit “mainstream”. Menurut pengalaman seorang sastrawan besar, rada kurang enak perihal transparansinya. #selfpublishing

tau Sapardi Djoko Damono, donk? Suatu hari saya pernah ketemu beliau dalam sebuah peluncuran buku di Yogyakarta. #selfpublishing

saya udah siap dari kos bawa salah satu bukunya beliau buat minta tandatangan, buku yang judulnya “Ayat-ayat Api”. #selfpublishing

begitu selesai acara dan saya sodorin buku itu ke beliau, beliau bilang. “Wah, dapat dari mana ini? Saya aja nggak punya.” #selfpublishing

“Ayat-ayat Api” itu terbitan tahun 2000, saya minta tandatangan itu 2009. Kurun waktu yg belum terlalu lama sebenernya. #selfpublishing

dr omongan beliau yg saya tangkap: beliau gak tahu bukunya itu diproduksi, atau beliau gak tahu buku itu -masih- diproduksi. #selfpublishing

stlh itu seraya membubuhkan ttd, SDD melanjutkan kalimatnya. “Yah.. begitulah penerbit-penerbit itu, ndak bilang-bilang..” #selfpublishing

bbrp hari berikut sy ketemuan dgn penerbit buku sy di sebuah kafe, ngobrol seputar penerbitan. Sy tanyakan ttg omongan SDD. #selfpublishing

dan ternyata penerbit sy itu pun meng-amin-kan kalimat SDD. Bahwa terkadang penerbit-penerbit “mainstream” itu jg “bandel”. #selfpublishing

intinya permasalahan yang cukup mengganggu kalau menerbitkan buku lewat penerbit “mainstream” itu yakni perihal Laporan. #selfpublishing

dan mgkn setelah mengalami perlakuan serupa bbrp kali, SDD akhirnya memutuskan membuat penerbitan sendiri, namanya Editum. #selfpublishing

sy kebetulan blm mengalami sendiri nerbitin buku lewat penerbit “mainstream”, jd pengalaman ttg itu saya dengar dr org lain. #selfpublishing

sekedar informasi, bbrp nama sastrawan besar skrg sudah beralih ke penerbit “Indie” ini, baik yg POD ataupun ‘konvensional’. #selfpublishing

sebutlah Joko Pinurbo, Gunawan Maryanto, Afrizal Malna yg menerbitkan bukunya lewat Omahsore, salah satu penerbit ‘indie’. #selfpublishing

jd kesimpulannya, enaknya nerbitin buku sendiri itu: 1. Murah, 2. Mudah, 3. Fleksibel, 4. Transparan. Ok, selamat berkarya! #selfpublishing

Posted in: Uncategorized