cerita tentang Tempo by @gm_gm

Posted on September 25, 2010

0


Sbg gantinya, saya akan cerita sedikit ttg 21 Juni, yg saya sebut Hari Perlawanan Pers. #bredel

21 Juni 1994 pk 10, saya terima berita pembredelan Tempo waktu saya di bandara utk ke Jawa Tengah. Kepergian saya batalkan. #bredel

Saya tak terkejut. Mungkin krn situasi sdh terbaca: bbrp hari sebelumnya Suharto berpidato dgn suara marah; seingat saya ttg pers. #bredel

Bbrp malam sebelumnya saya mimpi. Nah, ini ada klenikny: saya mimpi, bapak saya almarhum datang. Gawat. Dia bilang: akan ada perang.#bredel

Memang saya pernah 3 kali mimpi ketemu bapak, dan itu selalu bertaut dgn suasana genting. Ini, kata Freud, tentu soal bawah sadar. #bredel

Saya tak ingat betul, tapi rasanya dia bilang sebelum pergi: “Jangan lari. Mati itu biasa.” Wah, kayak adegan Hamlet, pikir saya. #bredel

Saya selalu skeptis pada soal2 begitu, tapi krn sdh ada antisipasi bhw yg terburuk akan terjadi, saya tenang hari itu. #bredel.

Di kantor Tempo di Rasuna Said (sebelah kiri KB Australia) karyawan berkumpul. Dasar orang Tempo, tetap bisa melucu, atau sok cool. #bredel

Yg lupa saya ceritakan bhw waktu itu saya sdh bukan Pemimpin Redaksi. Sdh setahun kira2 saya digantikan Fikri Jufri. #Bredel.

Yg mengharukan, mulai senja hari 21 Juni banyak tamu dtg ke kantor Tempo. Buyung, Todung, dll. Mereka spt takziyah keluarga yg mati.#bredel

Esok paginya bbrp perempuan, kalangan profesional, datang ke kantor. Mereka bawa makanan. Saya mau nangis, cuma hrs ja”m. #bredel

Tanda dukungan spt ini, di mana2, membuat kami yakin, kami tak sendiri. Dan orang tak takut. #bredel

Di hari kedua sdh muncul demo memprotes pembredelan. Saya, yg bukan pemred lagi, dibebani pegang “komando” Tempo dr situasi kritis. #bredel

Dgn cepat gerakan pro-demokrasi dr mana2 membikin kontak dan demo makin besar dan meluas. Tim Tempo dan deTik merapat. .#bredel

Dgn teman2 Tempo saya mulai merancang. What next? Sambil pakai “ilmu” planning Tempo, dianalisa kemungkinan2 dan antisipasinya. #bredel

Tapi akhirnya, yg menentukan adalah “gut feeling”, gerak hati, dan kemauan nekad. Ingat: kami berhadapan dgn rezim yg kuat. #bredel

Bagi rezim Orde Baru, gelombang demo menentang bredel belum pernah terjadi sebelumnya. Maka mereka mulai siapkan pukulan. #bredel

Malam sebelum demo besar kedua, komandan intel Kodam menemui saya, minta skala protes dikurangi. Kalau tdk, pertumpahan darah.#bredel

Saya jawab: saya tak pegang komando seluruh aksi. Juga bg kami tak ada gunanya mundur. Toh akan jadi korban juga. #bredel

Nah, besoknya demonstrasi muncul lagi di depan Deppen. Sebenarnya tak begitu dahsyat. Tapi ABRI sdh mau main keras. Korban jatuh, #bredel

Pelukis terkenal Simsar, yg aktif memprotes, dipukuli. Kakinya remuk. Banyak yg luka. Saya tahu, Tempo berutang budi kpd mereka. #bredel

Komandan intel yg menemui saya Zaky Makarim. Masih kolonel. Saya mengenalnya baik. Saya teman keluarga. Dia adik Nono Makarim. #bredel

Nah, di antara demonstran ada Rayya Makarim (kini penulis film yg bagus itu “Jermal”), kemenakan Zaky. Untung Rayya selamat. #bredel

Perkembangan yg mendetail tak perlu ya? Yg perlu: orang2 Tempo nekad adukan P’tah Suharto ke Pengadilan TataUsaha Negara. #bredel

Ini blm pernah terjadi dlm sejarah Or-Ba. Biasanya, kalau dibredel, ya menyerah. Ide mengadukan Pemerintah ide Bambang Harimurty #bredel

Sdh tentu kami akan dikalahkan. Tapi setidaknya kami sdh tunjukkan: kami tak menyerah. Malu dong kalau takluk. . #bredel

Dlm sidang2 PTUN, yg hadir bukan main. Mendukung kami. Tak terlupakan: Ali Sadikin. Dlm hati saya, he was my true President. #bredel

Hampir semua pakar hukum pro-demokrasi jadi penasihat hukum kami. Buyung, Todung, Amir Syamsudin, Trimulyo, Frans, A. Salim #bredel

Tapi yg mengatur strategi: Marsillam Simanjuntak. Dia, kata Todung, “the lawyer of the lawyers”. Juga pendiri Forum Demokrasi. #bredel

Mereka yg 15 tahun kemudian lihat Marsillam di TV dlm menghadapi Pansus Century tahu: ia tajam, berani, briliant, “articulate”. #bredel

Persahabatan saya dgn Marsillam sdh 40 tahun. Saya kenal dia sepulang saya dr Eropa. Pemimpin mahasiswa dan demonstran yg tangguh. #bredel

Tak terduga-duga, Tempo dimenangkan di PTUN. Pemerintah dikkalahkan! Hakim Benjamin Mangkudilaga membuat sejarah. #bredel

Hari itu ratusan hadirin berdiri bertepuk tangan utk Hakim Benjamin. Saya lihat seorang aktivis perempuan menyerahkan kembang. #bredel

Saya duduk di sebelah Ali Sadikin. Dia bilang Tempo akan menang. Saya bilang kalah. Kami bertaruh Rp 50 (waktu itu). Dia yg menang! #bredel

Tapi akhirnya setelah di Pengadilan Tinggi menang lagi, di Mahkamah Agung Tempo kalah. Mana berani MA melawan Suharto? .#bredel.

Waktu itu banyak juga yg datang ke MA. Termasuk istri saya, yg heran bhw saya datang, didampingi Marsillam, pakai pici. #bredel

Ada yg bilang saya pakai pici supaya kayak Bung Karno. Tapi sebenarnya saya mau coba nyamar dari kamera TV. Konyol sekali kan?#bredel

Setelah dinyatakan kalah, saya ke luar ke teras MA. Para aktivis sudah siap demo. Saya cegah: di situ dekat Istana. Bisa dihabisi. #bredel

Waktu itu saya bilang, perjuangan lewat hukum sdh selesai. Kini kita mulai perjuangan….Hampir saya bilang “perjuangan politik”. #bredel

Saya tak katakan “perjuangan politik”, sebab bisa ketahuan yg kami rencanakan. Waktu itu sdh bulat niat: we would go underground #bredel

Waktu itu para wartawan muda yg berani sdh bergerak. Mereka dirikan Aliansi Jurnalis Independen, dgn statemen yg mengejutkan. #bredel

Para wartawan muda itu kumpul di wisma Tempo di Sirnagalih, Ja-Bar. Pura2 piknik, supaya intel nggak tahu. Ternyata bikin sejarah. #bredel

Sebab statemen mereka luar biasa: menentang surat ijin terbut, sensor, bredel + monopoli organisasi wartawan oleh PWI. Nekad. #bredel

Di mana-mana ada protes pembredelan. Tapi yg mengejutkan: ada juga protes di desa Madura. Bagaimana mungkin? #bredel

Emha Ainun Nadjib yg mengajak saya ke desa itu. Di sana sebuah pesantren selenggarakab istighoxah utk Tempo. #bredel

Rupanya di desa Madura pernah ada petani2 tewas ditembak krn protes. Tempo yg melaporkan itu. Maka timbul dukungan utk Tempo.#bredel

15 tahun y.l. itu saya ke dusun Madura itu a.l. dgn @ulil dan Marsillam. Dlm perjalanan malam, Sillam ketawa kecil.#bredel

Katanya: “Lucu juga, kita begini terus”. Saya tahu maksudnya: kami kok selamnya dlm perlawanan. “La guerre n’est pas fini”, katanya. #bredel

Di Yogya, m’siswa + dosen turun ke jalan utk Tempo. Yg menonjol Umar Kayam, sastrawan tenar + profesor itu. Gak takut dipecat. #bredel

Di Yogya, m’siswa + dosen turun ke jalan utk Tempo. Yg menonjol Umar Kayam, sastrawan + profesor itu. Gak takut dipecat. #bredel

Apa sebenarnya hasil aksi2 itu? Tempo, deTik, Editor ttp dibredel. Tapi jaringan pro-demokrasi meluas. Menguat. Keberanian menjalar.#bredel

Dan tak kalah penting: kita tahu kita punya harga diri. Saya pernah tanya Rustam Mandayun, waktu itu KaBiro Tempo Yogya.#bredel

Saya tanya kenapa ia aktif ikut perlawanan, sementara tak ada masa depan? Jawabnya: “Kita kan biasa menolak amplop, Mas”. #bredel

Itu penutup kisah pembredelan dr saya. Kisah lain bisa diceritakan teman2 lain. Kalau ada pertanyaan + komentar, saya jawab besok ya?


twitpocket: sekelumit tentang Tempo, pada 28 Juni 2010

Saya heran akan dua hal. Pertama, bhw Tempo dicoba dicegah beredar dgn diborong – satu tindakan sia2, apalagi sekarang.

Saya ikut bangga dgn Tempo sekarang, tapi perlu ditegaskan utk kesekian kali: sejak 1999 saya tak ikut mengelola majalah itu lagi. #tempo
comment1    : Jadi makin bagus ya?!?
gm_gm        : Dibanding jaman saya, Tempo yg sekarang lebih maju dan berani dlm investigasi soal korupsi dan kolusi.
comment2    : what can you say? You’re Tempo and Tempo is you…😉
gm_gm        : That’s not fair to the current Tempo team who has made the magazine as it is now. Tempo, ce n’est pas moi!
comment3    : sdh jd icon Om .. Tempo=Om demikian sebalik nya … Character Om kuat bgt Di Tempo…
gm_gm        : Ikon Tempo adalah Tempo itu sendiri. Tempo punya dinamika yg melebihi orang perorang.

Maka ini keheranan saya kedua: masih banyak yg tanya ttg Tempo ke saya. Ttg “hilangnya” Tempo, saya tak tahu spt pembaca lain. #tempo
comment        : pernahkah ada kasus mirip2 dgn “tempo raib” ini sewaktu bung masi di Tempo?
gm_gm        : Dulu, di bawah rezim Or-Ba, seingat saya cara menghambat Tempo beredar ya dibredel. Skrg itu mustahil, berkat Reformasi.

Sebutan saya di Tempo: salah satu dr “redaktur senior”. Ini sebutan kehormatan utk para redaktur yg sdh pensiun. Tak digaji. #tempo

Para “redaktur senior” terkadang diberi tugas. Tugas saya: menulis Catatan Pinggir. Sejak 6 bulan lalu terima honor utk itu. #tempo
comment        : dari award2 juga berhonor ya bang
gm_gm        : Sayangnya, kebanyakan award yg saya terima tak disertai uang.
comment        : klo yang ini? http://bit.ly/9qs39y katanya begini http://bit.ly/a7xast
gm_gm        : Saya katakan “kebanyakan”, bukan “semua” award.
comment        : klo motifnya solidaritas/empati, mending ‘balikin’ duitnya ke dhuafa
gm_gm        : Di Komunitas Utan Kayu kami biasa memberikan dana yg diperoleh dari award untuk kegiatan komunitas, yg memang memerlukannya.

Tugas saya yg baru: anggota Ombudsman Tempo. Ini berarti saya hrs mengritik apa yg hrs dikritik dlm koran dan majalah. #tempo
Ombudsman cuma mengurus soal isi, bukan soal distribusi.
comment        : comment    mas, setahu sy, ombudsman biasanya diambil dr luar — biar independen thd newsroom. Mungkin sy keliru
gm_gm        : Anda betul. Mungkin pimpinan Tempo anggap saya “orang luar”. Maksudnya orang TUK+Salihara.

Para pengasuh Tempo yg sekarang bisa dilihat namanya di “masthead” koran + majalah. Yg ada di Twitterland: @thadad @arifz_tempo. #tempo

comment        : Dari sinilah semangat @gm_gm berasal http://tweetphoto.com/2965872

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized