#voltaire by @gm_gm

Posted on September 17, 2010

0


kumpulan twit ini saya copy dari http://jojome.wordpress.com/2010/07/14/voltaire-kultwit-oleh-gm_gm-gunawan-mohammad/#comment-21

terima kasih untuk jojome yang sudah mengijinkan saya menyelipkan kumpulan twit ini di sini..

Voltaire, yg lahir 1694 dan meninggal dlm usia 84 tahun, agaknya tokoh Eropa paling menonjol, berpengaruh, di abad ke-18.
“Nama Voltaire”, kata sastrawan Prancis Victor Hugo, “itu memberi ciri seluruh abad ke-18″.
Voltaire tak membangun sistem filsafat. Tapi prosanya, karya lakonnya dan pamflet literer yg ditulisnya, menggugah sebuah zaman.
Khususnya di Prancis dan Eropa ketika kebebasan berfikir masih belum terjaga dan fanatisme agama yg bertaut kekuasaan masih dominan.
Kita di Indonesia sdh banyak yg mengenal novel pendeknya, “Candide”; sebuah satire yg mencemooh pandangan yg disebut “theodice”.
“Theodice”, spt dalam filsafat Leibnitz, anggap dunia ini, dgn segala keburukannya, adalah yg terbaik dari semua dunia yg mungkin.
Bagi Lebinitz, Tuhan selalu punya rencana yg baik buat kita. Bagi Voltaire: apakah itu bisa menjelaskan kebusukan dan derita di dunia?
Di tahun 1739 Voltaire menulis satu lakon, “Mahomet”, ttg Nabi Muhammad, dan menampilkan Nabi sbg tokoh yg hitam.
Tapi ketika dipentaskan di Theatre-Francais di Paris Agustus 1742, “Mahomet” dikecam para pastor Katolik dan akhirnya dihentikan.
“Mahomet” dianggap bukan menyerang Islam, spt tampaknya, tapi menyerang Kristen. Atau persisnya: fanatisme yg membawa kekerasan.
Tapi baiklah, sebelum saya berlanjut ke arah mengisahkan polemik Voltaire dgn kaum agamawan, saya ceritakan sedikit riwayatnya.
Bagi anda yg punya buku “The Story of Philosohy” karya Will Durant (buku lama) akan mendapatkan riwayat itu lebih detail.
Voltaire lahir dgn nama Francois Marie Arout di Paris. Ayahnya seorang notaris yg sukses. Ibunya ada keturunan ningrat sedikit.
Orangtua itu punya tiga anak, yg perempuan mungkin meninggal di masa kecil. Kakak Francois, Armand memeluk keyakinan Jansenit.
Keyakinannya dianggap “heretic” oleh Gereja, tapi Armand siap mati untuk itu. Dia lurus kaku. Sementara Francois suka nulis sajak.
Bapaknya, sang notaris, yg berpikiran praktis, mengeluh. Dia punya dua anak gila, katanya. Yang satu prosa dan yang satu puisi.
Si “puisi”, Francois, kemudian memang jadi penulis lakon yg beken, penulis satire yg tajam — dan membuat onar.
Pada umur 22, krn sajak-sajaknya yg mencemooh dan kurang ajar, dia dibuang ke Tulle, Prancis Tengah oleh Penguasa Prancis waktu itu.
Penguasa waktu itu, Philippe d’Orleans, adalah “régent” atau wakil raja sebelum Louis XV dewasa. Ia berkuasa sampai 1723.
Di bawah Philippe d’Orleans Prancis tak seluruhnya jelek. Ia sendiri pemabuk dan doyan cewek, tapi Prancis menikmati pendidikan bebas
Ada ruang buat bebas berkarya, Termasuk buat Voltaire dan Montesqieu.. Tapi kehidupan agama cemar oleh kekuasaan dan dicemooh,
5 Mei 1716, sang Regent mengirim Franscois ke Tulle, 500 km di selatan Paris. Kemudian dipindahkan ke Sully-le-Leur. Lalu bebas.
Tapi kebebasan sebentar. Di Paris beredar satire2 gelap. Voltaire didakwa dan tak mau mengaku. 16 Mei 1717, ia dpt “lettre de cachet”.
Dengan itu ia dimasukkan ke Bastille. Hanya boleh bawa pakaian yg dikenakannya. Tapi kemudian ia bisa masukkan buku dan perabot.
Di penjara itu ia menulis La Henriade, separuh naskahnya dituliskan itu di antara baris buku yg ada. 11 April 1718, ia bebas.
Di bui Bastille itu ia mengganti namanya jadi Voltaire. Ada yg bilang itu anagram dr kata “Arouet Le Jeune”. Tapi entahlah.
Dlm naskah lakonnya yg pertama yg menggemparkan, “Oedipue” (Oedipus) nama yg ia pakai: Arouet de Voltaire”. Waktu itu umurnya baru 24,
“Oedipe” dipentaskan pertama kali 18 Nop. 1718. Sambutan luar biasa: sampai 45 hari. Orang Paris sangka lakon itu sindiran kpd Regent.
Bagi kul-twit ini, yg menarik dlm lakon itu adalah dua baris di adegan pertama babak ke-IV, yg menyindir “para pendeta”.
“Notres prêtes ne sont pas ce qu’un vain peuple pense/Notre crédulité fait toute leur science” –
“Para pendeta kita tak seperti yg disangka orang ramai yg naif itu: kita gampang percaya, dan itu yg membentuk ilmu mereka”.
1732, terbit “Épître à Uranie”. Puisi panjang ini ditulis sekitar 10 tahun sebelumnya dan baru diakui Voltaire 40 tahun kemudian.
“Aku ingin mencintai Tuhan”, tulisnya, tapi yg didapat ” tiran yg harus kita benci”. Sajak itu juga bicara ttg “dusta-dusta suci”.
Sebelum saya cerita ttg yg dilakukan Voltaire thd sebuah keluarga Protestan yg dianiaya, perlu asal usul jihadnya utk toleransi.
Voltaire membuang diri ke Inggris krn ia beperkara dgn seorang aristokrat yg ia anggap menghinanya. Soal nama Bangsawan itu, Chevalier de Rohan-Chabor, melihat Voltaire di lobi gedung opera, jadi pusat perhatian. Ia datangi si penyair.
Bangsawan itu, Chevalier de Rohan-Chabor, melihat Voltaire di lobi gedung opera, jadi pusat perhatian. Ia datangi si penyair.
Dgn congkak Rohan tanya: “Monsieur de Voltaire, M. Arouet, siapa sih nama anda?”. Pertanyaan ini diulanginya di kesempatan lain.
Voltaire tahu dia diremehkan. Kali ini dia jawab: “Namaku bermula dari diriku; namamu berakhir dgn kamu”. Rohan marah. Angkat tongkat.
Voltaire bersiap cabut pedangnya. Tapi krn ada cewek yg pingsan melihat adegan itu, perkelahian batal. Utk sementara.
Tak lama setelah itu, Feb. 1726, satu siang ia disergap 6 preman dan dipukuli. Rohan yg menyuruh. Tapi dgn pesan khusus.
“Hati2 jangan kena kepalanya”, kata Rohan. “Dari situ bisa lahir sesuatu yg bagus”.
Voltaire dendam. Dia bersiap menantang Rohan berduel. Latihan pedang segala. Tapi waktu itu berduel melanggar hukum.
Rohan cerdik. Dia tak mumcul di tempat yg ditentukan. Voltaire yg ditangkap polisi. Masuk penjara Bastille lagi.
Di dalam, Voltaire menulis surat ke penguasa. Dia minta dibebaskan, Dan bersedia membuang diri ke Inggris.
Permintaannya dikabulkan. 4 Mei 1726, ia dikawal polisi ke Calais, sebelum menyeberang ke Inggris yg baginya negeri manusia bebas.
Sekitar 3 thn ia di Inggris. Sepulangnya, ia menulis a.l. “Surat2 Tentang Inggris”. Ia bandingkan keadaan di sana dgn Prancis.
Voltaire melihat, Prancis hampir menghancurkan diri sendiri dgn niat memaksa semua orang ke dlm satu iman. Inggris, katanya, lain.
“Seorang Inggris”, tulis Voltaire, “sbg manusia bebas, pergi ke surga lewat jalan apa saja yg dipilihnya”.
Orang Indonesia kini bisa melihat betapa dekatnya pengalaman Voltaire dgn kita sekarang — kalau kita ingat FPI. Dan tak hanya itu, Inggris sanggup menegakkan kebebasan. Dgn asas “habeas corpus”, orang tak bisa ditahan tanpa sebab. Lain dgn di Prancis.
“Di Inggris”, tulis Voltaire, “menegakkan kebebasan itu mahal.” Dgn pertumpahan darah, despotime ditenggelamkan. Tapi ada buahnya.
Seakan bicara ttg Revolusi Prancis yg kelak terjadi, tulisnya: “Darah yg tumpah utk kebebasan, jadi semen bagi tekad mereka”.
Voltaire sebenarnya agak ngibul. Inggris sebenarnya juga penuh cacat. Di negeri Protestan itu ada diskriminasi thd orang Katolik.
Tapi dia cuma meng-idealisir Inggris utk menyindir keadaan Prancis. Maka tulisannnya tak diberi ijin terbit oleh pemerintah.
Gereja, Negara, Raja, Parlemen marah. Ketika tulisan itu diterbitkan secara rahasia, pencetaknya dipenjara dan Voltaire dicari.
10 Juni 1734, Parlemen (spt Senayan) perintahkan buku Voltaire dibakar, dinilai “bikin skandal, melawan agama, akhlak, dan otoritas”
Voltaire coba lari. Tapi kepepet. Ia diberi jalan ke luar: ia hrs tak akui dialah pengarang itu buku. Pengarangnya “mirip Voltaire”.
Voltaire mau. Memang tak heroik. Tapi dia tak jadi dipenjarakan. Asal tinggal jauh2 dari Paris. Ia pun hidup di Cirey di Timur Laut.
Cirey bukan saja jauh. Di sana yg tampak cuma gunung2 dan tanah liar. Hanya ada kastil rusak milik Marquis & Marquis Du Chatelet.
Nah, di kastil itu (Voltaire bantu memperbaikinya) Voltaire tinggal dgn pasangan du Chatelets. Sambil pacaran dgn nyonya rumah.
Madame Du Châtelet menarik dan pintar. Sambil sang suami spt tak peduli, dgn Voltaire ada kerja sama yg produktif.
Di kastil itu ada teater dan laboratorium. Voltaire senang jadi aktor utk lakonnya sendiri. Madame Ch bisa nyanyikan aria. Merdu.
Di lab, sang Marquise + Voltaire bekerja sama. Mereka tertarik sains dan lakukan eksperimen. Sang Marquise terjemahkan karya Newton.
Voltaire menulis “Éléments de la philosophie de Newton”. Uraian populer, tapi yg diam2 ia coba kaitkan dgn kepercayaan kpd Tuhan.
Tapi yg terpenting “Traité de métaphysique” (1734): Ia melihat ada desain di alam semesta. Seperti arloji. Semua akan jalan persis.
Artinya, dlm hidup semua sdh ditentukan. Tapi Voltaire tak bisa menghilangkan pikiran bhw ada kemauan manusia yg bebas.
Krn terpengaruh sains, Voltaire menampik adanya ruh; semua adalah zat (materi). Tapi dari mana kehendak bebas + pikiran manusia?
Voltaire pun berkesimpulan: “…sangat mungkin Tuhan menambahkan ‘pikiran’ kepada ‘zat”.
Tapi Voltaire tak percaya ada wahyu, kecuali alam. Itu saja tak tepermaknai.
Ada yg mungkin baik dlm agama, kata Voltaire, tapi orang yg berpikir tak membutuhkannya utk mendukung moralitas.
Bahkan agama sering disalah gunakan, kata Voltaire pula. Maka kebajikan hrs-nya ditentukan oleh kebaikan sosial, bukan taat kpd Tuhan.
Voltaire membacakan 75 halaman renungan itu ke Mme. du Châtelet. Mereka berdua sepakat: tak usah diterbitkan. Bisa barabe.
Tulisan itu akhirnya tak pernah terbit selama hidupnya. Voltaire sendiri kian ragu bhw metafisika yg rasional bisa jawab semua hal.
Maka antara 1734-1756, ia berkutat dgn metafisika dan theologi. Ia tetap percaya kpd Tuhan. Bahkan Condorcet anggap dia “religius”.
Tapi ia tak mengharamkan hati yg ragu dan pikiran yg bertanya. Malah ia anggap kepastian hanya keyakinan si pembual.
“Ragu memang tak menyenangkan”, tulisnya, “tapi kepastian itu hal yg menggelikan”.
Meski begitu, Voltaire mencoba menegakkan asas. Ia rumuskan agamanya begini: “Pujalah Tuhan, bersikaplah adil, dan syukuri negerimu”.
Dan dgn segala keresahan pikirannya, ia tak pernah terus terang menyerang agama (Kristen). Tapi kemudian terjadilah tiga peristiwa
Yang pertama: kian terasanya represi thd pemikiran bebas.”Orang diharuskan bohong, dan kita diprosekusi jika tak cukup berbohong”.
Kedua, ketika terjadi tsunami yg menghancurkan kota Lisbon, dan orang agama bilang itu kutuk Tuhan.
Ketiga, ketika ada sebuah keluarga Protestan, si minoritas, dianiaya oleh orang Katolik, si mayoritas, hanya krn fitnah.
Cerita ttg Voltaire + agama akan mulai lagi di sini. Saya akan cerita mula2 ttg sensor yg mengancamnya.
Baiknya saya mulai dgn sebuah usaha kecerdasan yg luar biasa di Pranciis antara 1746-65: disusun dan diterbitkannya “Encyclopédie”
Satu cerita tersendiri bisa ditulis ttg ini, tapi lain kali saja. Yg penting sekarang, dlm usaha itu, hrs disebut nama Diderot.
Diderot 19 tahun lebih muda ketimbang Voltaire. Tapi spt Voltaire, ia dididik kaum Jesuit. Bahkan hampir jadi pastur. Ayahnya senang.
Anak ini diantar sang ayah dari Langres, di Champagne, ke Paris agar bersekolah di Collège Louis-le-Grand, milik kaum Jesuit.
Ia dpt gelar master. Tapi makin terlatih ia berfikir, makin ia resah. Ia batal jadi pastur. Lagipula ini Paris: terlampau menggoda.
Ayahnya marah. Uang tak lagi dikirim. Diderot cari nafkah a.l. dgn mengajar matematika dan menulis teks khotbah buat pastur yg malas.
Tapi ia terus berlatih bhs Latin, Yunani, Inggris, Italia. Kelak ia akan dicatat sbg penyedia ilmu bagi yg mau belajar sendiri.
Diderot-lah yg jadi penggerak penyusunan berjilid-jilid “Encyclopédie”. Dia juga yg harus menghadapi sensor karena itu.
Diderot bekerja dgn seorang penerbit Paris, Le Breton. Beaya dibayar oleh sejumlah pelanggan + bantuan teman2, berhasil terbit.
Jilid pertama terbit 28 Juni 1751. Bentuknya bukan spt ensiklopedia sekarang. Ada biografi, sejarah, esei, tapi juga spt kamus.
Jilid pertama hati-hati isinya. Kalangan Jesuit cuma punya kritik kecil. Tapi ada bekas uskup yg lapor ke Raja: ini melanggar sensor!
Raja Louis pun perintahkan juru sensor kepala, Malesherbes, directeur d la librairie, bertindak. Tapi orang ini bukan sensor yg galak.
Berkat Malesherbes, pemikir spt Voltaire, Diderot dan Rousseau bisa leluasa menulis. Tapi jalan tak selalu mulus bagi “Encyclopédie”.
18 Nopember 1751, ada kehebohan, gara-gara di Univ. Sorbonne seseorang lulus dgn tesis yg bagi Parlemen dianggap melecehkan agama.
Tesis itu berjudul aneh, “Wajah siapa yg ditiupi Tuhan nafas kehidupan?”. Si penulis tesis, Jean Martin de Prades, memang “liberal”.
Kaum Jansenist yg menguasai Parlemen marah. Sorbonne mencabut gelar de Prades yg baru diberikan. De Prades, yg mau ditangkap, kabur.
De Prades lari ke Prusia dan bergabung dgn Voltaire yg juga di sana. Tapi tulisannya di “Encyclopédie” jilid II tak bisa dicabut.
Tak ayal, “Encyclopédie” jadi target serangan kalangan agama. 31 Januari 1752, Uskup Agung Paris mengutuk “Encyclopédie”.
Meski ada ide agar para pengarang dlm buku itu dihukum mati, akhirnya tak semengerikan itu. Diderot tak ditahan. Tapi bahan2 disita.
Tanpa bahan2 itu, bgm “Encyclopédie” bisa ditulis? Dari Prusia, Voltaire mengimbau Diderot agar usaha penerbitan pindah ke Berlin, Diderot menolak. Akhirnya, berkat jasa Malesherbes, ada kompromi. Kelak tiap penerbitan harus disensor dulu oleh 3 ahli agama, Keadaan begini yg menggelisahkan Voltaire. Ia juga takut setelah menyumbang tulisan ke Diderot. Ia minta beberapa tulisan dicabut.
Diderot tak menjawab. Ia menyurat lagi. Diderot tersinggung. Juni 1758, Voltaire menyatakan ia tak bisa menyumbangkan tulisan lagi.
Di situlah Voltaire mengatakan, dlm keadaan represif itu, “Orang diharuskan bohong, dan kita diprosekusi jika tak cukup berbohong.”
Dan di situah ia mengatakan akan pindah ke Ferney dan mau hidup tenang saja. Tapi satu malapetaka terjadi d Lisbon, 1 Nopember 1755.
Lisbon, yg terletak di pantai, dihantam tsunami. Dlm tempo 6 menit, 30 gereja hancur, seribu rumah ambruk, 15.000 orang mati.
Beritanya sampai ke Paris terlambat sekitar dua pekan. Maklum, itu pertengahan abd ke-18. Sejak itu, Eropa terkejut dan bertanya.
Di abad ke-18, kata seorang penulis, kata ‘Lisbon’ seperti kata ‘Auschwitz’ — tempat Hitler menghabisi orang Yahudi — di abad ini.
Kedua nama itu menandai ambruknya kepercayaan paling dasar kepada dunia — terutama kepercayaan kpd Tuhan dan rahmat-Nya.
Kedua nama itu menandai ambruknya kepercayaan paling dasar kepada dunia — terutama kepercayaan kpd Tuhan dan rahmat-Nya.
Bayangkan. Hariitu hari orang Lisbon yg alim menrayakan para santo. Mereka ke gereja dan tewas. Kenapa Tuhan tak melindungi mereka?
Bahkan tempat pelacuran di kota itu termasuk yg selamat? Apa gerangan maksud Tuhan?
Syahdan, seorang padri Jesuit, Malagrida, punya jawab. Persis spt yg pernah kita dengar di Indonesia waktu ada tsunami di Aceh.
Malapetaka itu terjadi krn Tuhan murka atas dosa2 yg merambah kota Lisbon, kata sang rohaniawan. Itu hukuman Tuhan!
Seorang pengkhotbah Protestan terkenal di Inggris juga menyimpulkan, “dosa” itulah sebab moral dari bencana.
Mendengar semua itu, Voltarie menulis satu sajak yg marah di tahun 1756. Ia sebut anak2 dan ibu2 yg mati, korban yg beronggok. Tuhan? “Maukah Tuan berkata”, tulisnya, “di depan hamparan korban ini bhw dendam Tuhan telah dibalas, dan mereka bayar kejahatan mereka”?
Tapi inti amarah Voltaire tertuju kpd optimisme ala Leibnitz, filosof Jerman itu, bhw Tuhan pemurah, dan dunia ini dunia yg terbaik. “Wahai, makhluk fana yg lemah + sengsara! Kau teriak dgn suara murung, “semua baik-baik saja”! Semesta menipumu…” Semesta menipu mereka yang mengatakan semua baik-baik saja, ‘Tout est bien”. Sebab dlm kenyataan seluruh isi alam “dlm keadaan perang”.
Voltaire mencemooh mereka yang bicara bhw ‘semuanya baik, semuanya perlu’, hingga dlm perbuatan yg durjana pun tersembunyi ‘hikmah’.
Dlm sajak ttg Lisbon ini, ia suarakan pesimisme ttg manusia. Juga ketakberdayaan. Pd akhirnya, tulis Voltaire, kita pasrah.. Pasrah, memuja, mengharap, dan mati. “Se soumettre, adorer, espérer, et mourir”. Sebuah kesimpulan yg lembut tapi mengejutkan.
Ia mengejutkan para filosof yg dengan akal hendak menerangkan dan mengalahkan dunia. Voltaire telah berubah? Apakah, dgn nasa menyerah dan pesimistis tadi, Voltaire berubah? Jawabnya: Voltaire memang tak selalu konsisten.
Dulu ia agak dekat dgn optimisme ala Leibnitz: krn Tuhan yg adil yg ciptakan hidup ini, apa saja yg ada dalamnya, kelak akan beres. Tapi tsunami Lisbon mengubahnya. Dan di tahun 1759 terbitlah “Candide, or l’optimisme”: kisah satiris yg mencemooh optimisme Leibnitz.
Saya yakin di antara anda pasti sdh pernah baca “Candide”. Sudah diterjemahkan ke dlm bhs Indonesia. Yg belum, bisa cari di Google. Nanti saya paparkan garis besarnya saja. Yg menarik: begitu terbit, Majelis Agung kota Jenewa memerintahkan agar buku ini dibakar. Voltaire tak ngaku dia penulisnya. Katanya kpd temannya, seorang pendeta di Jenewa: “gila, menganggap saya menulis nonsens spt itu”.
Tapi di Prancis semua tahu, Voltaire adalah penulis “Candide”. Bhs-nya lincah, satirenya lucu menusuk, main-main: gaya Voltaire. Tokoh Candide, pemuda dr Westphalia, murid Prof. Pangloss, pakar “metaphysycotheologgicoscosmonigologi”. (jelas, ini ngawur-ngawuran).
Kedua tokoh ini dikarang Voltaire sbg karikatur. Pangloss, misalnya, karikatur dari seorang yg yakin bhw malapetaka punya tujuan baik. Juga ketika kastil tempat Candide dibesarkan dihancurkan tentara Bulgaria dan orangtuanya dibunuh. “Ini perlu,”, kata Pangloss. Candide bisa lari. Bersama Pangloss ia naik kapal, dan tiba di Lisbon pas ada tsunami. Mereka selamat, tapi nasib tetap buruk. Mereka ditangkap dinas Inquisisi Gereja, dituduh Kristen murtad. Pangloss digantung. Candide bisa lepas berkat bantuan Cunégonde. Cunégonde ini gadis cantik yg dicintainya dulu, putri Baron di kastil di Westphalia. Bgm ia sampai ke Lisbon, entahlah. Voltaire tak peduli ceritanya penuh kejadian kebetulan, atau ganjil, atau berlebihan. Kita tahu dia main-main, meski arahnya serius. Begitulah Candide sampai ke Buenos Aires, lalu ke Paraguay, lalu Peru. Di Peru ia sampai ke El Dorado: negeri impian. Di El Dorado emas ada di mana-mana. Ini negeri tanpa uang. Tanpa agama. Tanpa “lawyer”. Orang hidup bahagia 200 tahun. Candide memungut emas dan berlayar balik ke Eropa. Akhirnya ketemu Cunégonde lagi. Juga Pangloss! Rupanya ia tak sampai mati digantung. Pangloss sdh punya tanah. Candide & Cunégonde ikut beli tanah dan berkebun. Sibuk. Meskipun Pangloss masih suka ceramah. Pengalaman mereka yg penuh penderitaan, kata Pangloss, terbukti yg membawa mereka ke kehidupan tenteram itu. Optimistis-lah! Candide bilang: kata-kata bagus itu, tapi mari kita kerjakan saja kebun kita: “Mais il faut cultiver notre jardin”. Dan novel selesai.
Kalimat penutup itu tampaknya hendak menunjukkan: ketimbang berteori panjang ttg hidup dan nasib, lebih baik kita kerja. Beres. Begitulah Voltaire meninggalkan pandangan yg muram ttg nasib, tapi mengejek optimisme ala Leibnitz yg merasa pasti akan happy end.
Sdh disebut sebelumnya, Voltaire mencemooh filsafat optimisme Leibnitz. Sejak bencana di Lisbon, Voltaire tak 100% percaya dunia yg ada ini adalah yang terbaik di antara dunia2 lain yg mungkin. Tapi ia bukan orang yg pas utk mendakwahkan filsafat yg pesimistis. Pandangannya yg muram pun dikritik. Pengecamnya yg pertama Jean-Jacques Rousseau, yg waktu itu belum dikenal.
Tak lama setelah sajak ttg tsunami Lisbon karya Voltaire tersiar, Rousseau, mengirim surat yg tajam. “Optimisme yg Tuan anggap salah, tulis Rousseau kpd Voltaire, justru menghibur saya. Pesimisme Tuan, tak dpt saya tanggungkan.” Dan Rousseau yg miskin membandingkan dirinya dgn penulis “Candide” yg tenar dan makmur, yg “kenyang oleh kemegahan”. Surat Rossueau yg menusuk itu tak berbalas. Voltaire mungkin kesal, mungkin juga karena ia tak kenal orang ini.
Waktu itu Rousseau, yang mulai hidup dengan jadi pembantu tukang grafir, lalu jadi sekretaris, umur 44. Baru menulis sebuah buku. Kelak Rousseau jadi termashur, penulis “Du Contrat Social”. Spt Voltaire, lawannya, ia dimakamkan di Pantheon, Paris. Di makam orang2 besar sejarah Prancis itu, kubur mereka berseberangan. Dgn patung yg entah mengapa sama2 jelek. Berbeda dari Rousseau, Voltaire sdh lama makmur. Ia mewarisi ketrampilan ayahnya, notaris: pintar cari uang. Voltaire bahkan pernah jadi pialang kontrak penjualan mesiu utk tentara. Pernah menang lotere besar. Berhasil dpt uang pensiun. Di tahun 1759, ia beli tanah di Ferney, dekat perbatasan Swiss. Ia tak mau tinggal di Jenewa lagi, setelah 2 tahun tingal di sana. Soalnya, di Jenewa yang puritan, teater diharamkan oleh para rohaniawan Calvinis. Voltaire, penulis lakon, tak betah. Kota kecil itu ikut ia bangun. Ia mendirikan bengkel keramik dan pembuatan arloji. tentu saja ia bangun gedung teater. Ia berpengaruh di kota kecil itu hingga ia bisa ganti nama“Fernex” jadi “Ferney”. Alasan: sdh banyak kota yg pakai huruf “x”. Ia hidup nyaman di Ferney. Kelak, setelah Revolusi Prancis, Ferney diubah jadi “Ferney-Voltaire”. Patungnya jadi ciri kota.
Tapi bisakah orang spt Voltaire hidup tenang? Penyair W.H. Auden pernah menulis sajak yg bagus, “Voltaire at Ferney”. Di Ferney, tulis Auden, :like a sentinel, he could not sleep. The night was full of wrong/ Earthquakes and executions…”. Seakan-akan Voltaire seorang penjaga keadaan: tak tidur, sementara malam penuh dgn kekejian, mala dan kekejaman. Ia merasa harus terus menulis, di bawah bintang2 yg tak berkeluh kesah. Hanya sajaknya yg bisa menghentikan kekejian itu. “Only his verses/Perhaps could stop them: He must go on working. Overhead/The uncomplaining stars composed their lucid song”.
Dan Voltaire pun menulis terus, mencoba hentikan apa yg kejam dan tak adil. Terutama krn satu kejadian yg bengis. Kejadian itu adalah ketika seorang berumur 64 tahun dihukum mati dgn kejam, di kota Toulouse, nun di Prancis Selatan. Orang tua itu bernama Jean Calas. Ia dihukum mati dgn cara yang berlaku sejak Zaman Pertengahan. Tubuhnya diikat + dipatok di jari-jari sebuah roda yg diputar, hingga anggota badannya satu-satu patah. Ia hrs mati pelan2 kesakitan. Apa gerangan salahnya? Calas hanya pedagang linen, “marchand d’indiennes” yg hidup di jalan utama kota itu selama 40 tahun. Tapi ia seorang Protestan dan ia didakwa membunuh anaknya sendiri yg mau masuk Katolik.
Toulouse memang kota yg tak cocok utk berbeda agama – yah, mirip Bekasi. Undang2 yg menindas orang Protestan diikuti dgn keras. Sejak masa konflik Katolik-Protestan, undang2 Prancis melarang orang Protestan memilih kerja di tempat2 tertentu. Orang Protestan tak boleh jadi pegawai negeri, advokat, dokter, bidan, apoteker dan penjual buku.. Menyelenggarakan misa Protestan dilarang. Kalau ada yg ikut dan ketahuan, dipenjara. Perempuan bisa dibui seumur hidup. Dan nasib yg menimpa Jean Calas terjadi di tahun 1762,ketika orang Toulouse merayakan 200 tahun pembantaian kaum Huegenots.
Di Toulouse, th 1526, orang Katolik membantai 300 orang Huegenot. Parlemen setempat menghukum 200 lainnya. Tiap tahun, umat Katolik Toulouse memperingati “kemenangan” itu. Pawai digelar. Th 1762 itu peringatan dua abadnya.
Di th 1762 itulah Jean Calas, si Huegenot malang, dihukum mati. Benarkah ia membunuh anaknya sendiri yg mau jadi Katolik? Okt setahun sebelumnya keluarga Calas berkunpul. Tak dinyana, di malam itu si anak sulung menggantung diri. Marc Antoine belajar hukum. Tapi ia tahu ia tak bisa praktek krn dia bukan Katolik. Ia terpaksa menyembunyikan imannya. Dgn cara tertentu, ia dpt sertifikat Katolik. Tapi kepalsuannya ketahuan. Ia pun hrs memilih utk meninggalkan iman Protestannya. Marc Antoine jadi pemurung. Peminum. Penjudi. Dan malam itu, tubuhnya tergantung mati. Marc Antoine, anak sulung keluarga Calas, meninggalkan duka — tapi juga bencana. Sebab, bunuh diri di Toulouse dianggap kejahatan.
Bunuh diri dianggap kejahatan dgn hukuman yg brutal. Jasad pelakunya hrs digeret telanjang sepanjang jalan dan dilempari batu. Setelah mayat si bunuh diri digantung, hartanya dirampas negara. Takut itulah yg akan terjadi, si ayah, Jean Calas, minta agar keluarga mengatakan Marc Antoine mati wajar. Tapi ketahuan. Polisi temukan bekas tali di leher mayat. Maka seluruh keluarga ditahan. Polisi tak percaya bhw ini kasus bunuhdiri. Keluarga Calas, menurut polisi, telah membunuh anak sulung mereka sendiri. Mereka tak mau Marc Antoine jadi Katolik.
Tuduhan itu didengar orang ramai dan sampai juga ke parlemen setempat. Mereka, umumnya Katolik, marah kpd keluarga Calas. Mereka bikin upacara besar. Mereka anggap Marc Antoine Calas martir. Si bunuh diri ini dimakamkan di Gereja St. Stefanus. Keluarga Calas diseret ke depan 12 hakim. Vonis: semua hrs digantung. Hakim tak peduli ada saksi yg meringankan: seorang Katolik, Ia Jeanne Vigniere, guru yg tinggal di keluarga itu jadi pengajar anak2 Calas. Ia bersumpah keluarga itu tak berdosa. Sia2. Keputusan hakim itu sempat dinaik-bandingkan ke Parlemen. Akhirnya hanya si ayah yg dihukum mati. Dgn siksaan yg mengerikan. Yg lain bebas. Tapi harta mereka disita habis. Keluarga Calas bersembunyi. Si bungsu lari ke Jenewa. Voltaire menemuinya.
Hati Voltaire terguncang oleh kebuasan thd minoritas itu. Sejak itu, ia berjihad melawan fanatisme dan kebencian antar iman. Apalagi kekejaman atas nama agama bbrp kali terjadi. Salah satunya menyangkut dirinya: buku2-nya dibaca pemuda yg murtad. Th 1766, ada anak2 muda yg mengotori salib. Mereka divonis mati – lidahnya hrs dicabut, tubuhnya dibakar, bersama karya Voltaire! Hukuman dilaksanakan, tanpa cabut lidah. Si pemuda “hanya” dipenggal. Melihat ini Voltaire memaklumkan perang terbuka thd agama.
Saya ulangi sedikit yg sdh dikisahkan: Voltaire memutuskan utk angkat suara mendengar kekejaman atas nama Tuhan dan agama itu. Pemuda berumur 16 tahun itu, De Barre, dituduh menodai agama dgn mengotori salib & tak hormarti hosti. Ia disiksa, ia mengaku. Ia dipenggal, dan setelah itu, tubuhnya dilontarkan ke api unggun. Penonton yg menyaksikan eksekusi itu bersorak. Orang ramai di Abbeville itu mirip orang Katolik di Toulouse yg menyaksikan penyiksaan atas Calas, si Protestan. Calas dipatahkan kaki + tangannya, dipaksa menelan air hingga gembung; setelah 2 jam, dicekik. Mayatnya diikat + dibakar. Voltaire marah.. “Ini bukan waktunya bercanda.” Prancis bukan lagi negeri filsafat & kegembiraan; tapi negeri pembantaian. Ia pun menulis surat imbauan, pamflet, seruan ke mana-mana: “Berteriaklah…utk keluarga Calas dan perlawanan thd fanatisme!.”
Sejak itulah pekik perangnya yg terkenal, “Écrasez l’infame” bergema. “Ganyang Kekejian Itu!”.
Orang melihat Voltaire berubah. “Selama ini tak ada senyum yg terlepas dariku tanpa aku memarahi diriku karenanya”, katanya. Ia meluncurkan buku2 kecil utk menembak. Ia tak percaya efektifitas buku tebal. Sekitar 30 judul yg disebarkannya dgn berapi-api. Tapi tak semua memakai namanya. Ada 100 nama samaran dipakainya. Kadang2, ketika menyerang gereja, dia pakai nama uskup Inggris. Kadang2 ada tulisan yg pura2 it tujukan ke dirinya. Biarpun sdg marah dan berperang, ia masih tetap suka main-main. Ia kenal pencetak di Den Haag, London, Amstrdam, Berlin. Semua dia kerahkan. Sebagian kampanye ia beayai sendiri.
Tapi karyanya yg kekal adalah risalahnya tentang toleransi: “Traité sur la tolérance”, 1763, yg mungkin dikenal @ulil dkk. Bagian yang paling menyentuh adalah bagian akhir, sebuah doa, atau satu paragraf untuk Tuhan. Saya kutip dlm posting2 berikut. “Paduka tak beri kami hati utk membenci, tangan utk saling bunuh.” “Berkahilah kami agar bisa saling menolong utk menanggungkan beban hidup yg pedih dan sementara ini.” Agar beda kecil dlm pakaian yg menutup tubuh kami yg rapuh, dlm bahasa kami yg tak cukup, dlm adat kami yg ganjil… “…dlm hukum kami yg tak sempurna, dlm pendapat kami yg iseng, dlm semua kondisi yg tak sebanding dgn yg kami lihat…. “…tapi begitu sama setara dalam penglihatan-Mu . “[Tuhan,] hendaknya semua variasi, yg membuat zarah yg bernama manusia ini berbeda, tak akan jadi tanda kebencian dan aniaya. Di akhir bagian doa itu ada penutup: “…mari kita pakai saat hidup kita utk mensyukuri, dlm 1000 bahasa yg berbeda…”…, dari Siam sampai California, rahmat yg Kauberikan kepada kami di momentum ini. Saya tak tahu, adakah Tuhan mendengar doa yg tulus ini — doa seorang yg tak beragama tapi menangis utk mereka yg teraniaya.
Dlm arti tertentu Voltaire tak pernah jauh dr Tuhan, hingga ia dikecam para pemikir atheis. Ada satu anekdot ketika ia berusia 80. Mei 1774, dlm usia 80, Voltaire bangun sebelum fajar, dan bersama seorang teman, mendaki satu bukit di sekitar Ferney. Sampai di puncak, menyaksikan dan merasakan matahari, ia berlutut dan berseru” “Oh, Tuhan yg agung, aku percaya!” Tapi dasar Voltaire. Bandelnya belum hilang. Ia segera tambahkan, bhw dlm hal Sang Putra dan Bunda Maria, ia anggap itu soal lain. Ia tetap bukan seorang Kristen, meskipun baginya Yesus adalah “guruku yang satu”. Bahkan kadang ia sebut “saudaraku”. Dlm satu pertemuan imajiner dgn Yesus, Voltaire mendapat jawab: agama sejati adalah mencintai Tuhan dan mencintai sesama.
Tapi Voltaire bukan tanpa inkonsistensi. Permusuhannya yg sengit thd fanatisme membuatnya jadi sangat militan dan agresif. Karya teaternya ttg Nabi Muhammad adalah karya “advokasi” dgn tokoh hitam-putih — dan yg “hitam” adalah sang nabi Islam. Judul lakon ini “Le Fanatisme, ou Mahomet le prophète”, dlm 5 babak, dgn dialog berpuisi. Tapi tokoh utamanya bukan Nabi sendiri. Tokoh utamanya Zopire, pemimpin orang Mekah, pembela pkiran bebas. Sementara Mohamet merancang membunuhnya. Utk membunuh Zopire, Mahomet menyuruh Séide, pengikutnya yg fanatik. Séide berhasil, tak tahu bahwa Zopire itu ayahnya sendiri. Siapa yg tertarik kisah lengkap “Mahomet”, bisa diunduh di Google, baik dlm bahasa Pancis maupun Inggris.
Spt pernah saya sebut di awal Kul-Twit, lakon ini dihentikan kalangan gereja, setelah dipentaskan di Paris Agustus 1742. Kardinal yg semula mengijinkan pementasan itu, diam-diam menyuruh Voltaire menghentikannya. Ada anggapan lakon ini anti-Kristen. Voltaire menyatakan, lakonnya hanya ingin membuat agama Kristen jadi “Kristiani”, sambil melukiskan nabi Islam secara negatif.
Ada yg agresif dlm sikap Voltaire memang; “theisme”-nya pernah dianggap keras. Malah beberapa pernyataannya dinilai anti-Semit. Tapi ia hidup di zaman yg penuh intoleransi, dgn warisan prasangka yg bertahan lama. Di usia tuanya, ia tahu ia terbatas. Ia menyebut dirinya, “penghancur besar” yg tak membangun apa-apa. Ia tahu betapa lemahnya filsafat betapa tak menariknya rasio. “Tak ada filosof yg pernah mempengaruhi fiil orang bahkan di jalanan tempatnya hidup”, katanya. Ia sendiri tak bisa disebut filosof seperti Kant, Hege, Marx, di kemudian hari. Ia pemikir yg tak sistematis. Ia benci sistem. Tapi tak diragukan lagi: ia membuka pikiran beberapa generasi akan kekejian yg dilakukan atas nama yg suci dan agung.
Voltaire wafat 30 Mei 1778. Ketika sakit, seorang padri datang utk menrima pertobatannya. Voltaire memandanginya dgn geli. “Dari mana Tuan datang, Padri?”, tanya Voltaire. “Dari Tuhan sendiri”, jawab sang padri. “Baik, baik, tuan bawa surat mandat?”. Ketika ia akhirnya meninggal, gereja menolak memakakmannya di kuburan Kristen di Paris. Ia dmakamkan di Scelieares..

Tagged: ,
Posted in: Uncategorized