@siadit on kopi, the wine of Araby part 2

Posted on September 12, 2010

0


1. Selamat malam minggu. Sudah jam delapan. Saatnya untuk kultwit kopi. Topiknya adalah “the wine of Araby part II : the coffee house/cafe”

2.Spt di ceritakan pd kultwit 1, suku Ethiopia membawa kopi ke Persia sebagai bagian dari bekal pasukan untuk menjajah Persia.

3. Stl memukul mundur org Ethiopia , orang Persia mengenal & mendirikan kedai kopi/café di tempat strategis pada kota-kota besar mereka.

4.Café2 ini terknal menyediakan kopi sca cpt, efisien & penuh “kehormatan” . DIskusi politik & keributan yg tjd, disembunyikan scr diam2.

5.Café/kedai kopi kemudian mempunyai reputasi sbg tempat diskusi, menikmati musik, tarian serta “hal-hal lain” (ehem).

6.Utk mengatasinya, dikisahkan ttg Istri seorang Shah yg secara cerdik menugaskan seorang Mullah untuk mengunjungi kedai kopi yang ramai.

7.Tugasnya : menghibur pengunjung dgn puisi, kisah sejarah dan hukum secara lebih beradab. Diskusi2 ttg politik dihindari secara hati2.

8. Mereka duduk di tengah dengan kursi yg tinggi. “Mirip tugas seorang “juggler” di Inggris” kata seorang penjelajah Inggris

9.Sekarang kita lihat berkembangnya café di Turki. Meski sudah berkembang di Syria, kebudayan minum kopi masuk cukup lambat di Turki.

10.Namun, setelah meluaskan wilayah ke daratan Arab, Turki mengejar ketinggalanya. Saking gilanya dgn kopi, seorg dokter Inggris melukiskan

11. “Ketika orang Turki jatuh sakit, maka ia akan berpuasa dan minum kopi. Jk tidak sembuh, maka ia akan menuliskan wasiat kpd keluarganya”

12.Menurut catatan penulis Arab di Abad 16, dua orang wiraswata dari Syria membuka dua café pertama di Constantinople, Ibu kota Turki kuno.

13.Café ini dihiasi dengan karpet-karpet yang empuk serta sofa-sofa yang nyaman. Dekornya yang ramai sempat membuat jengah kaum Arab Muslim.

14.Pengunjung café ini adalah para kaum terpelajar, para penggemar catur, papan permainan serta para penggemar huburan lainnya

15. Pada Café lainnya, pengunjung merebahkah diri di sofa yang empuk sambil dihibur dengan cerita, puisi, musik atau tarian.

16.Meskipun menyatakan diri terbuka untuk semua kalangan,namun pengunjung dari bbrp kalangan mengkhususkan diri datang pada café tertentu.

17.Para pekerja hukum pada umumnya melihat café ajang bersosialisasi, karena café biasanya dikunjungi oleh hakim2 daerah yg berkunjung.

18 Atau professor & sarjana hukum yg baru lulus, utk mencari pekerjaan. Bahkan , pejabat Istana sesekali “turun gunung”, mengunjungi café.

19.Hery Blunt dalam bukunya “Voyave to the Levant” menceritakan kekagumannya akan pemandangan café2 di Turki. Begini komentarnya :

20.“Mereka duduk bersila di atas karpet. Jumlahnya hingga tiga ratusan! Dan mereka sibuk berbincang2 sambil diiiringi musik. Sungguh!”

21.Seorg petualang Perancis juga mencatat kegilaan orang Turki kepada kopi. “Belanja kopi kelurga Turki = belanja wine 1 keluarga Paris”

22. Dlm suratnya, Sir Henry Blunt mengkomentari ” meski kedai kopi dimana2, tetap saja orang Turki memasak kopi di perapian rumh masing2!”

Demikian kultwitnyaa. Semoga bisa menemani yg pacaran, yg sendirian, yg lg mudik dan yg balik ke Jakarta. Topik Rabu depan “Ritual Kopi”

Tagged:
Posted in: Uncategorized