@hotradero on GMT

Posted on August 30, 2010

0


Oh itu mulainya dari usaha Kerajaan Inggris membangun sistem navigasi laut untuk menentukan posisi bujur pd bola dunia. @ari_ap #GMT

Dalam navigasi laut, penentuan posisi bujur (Utara-Selatan) mudah dilakukan, tinggal menggunakan posisi bintang atau matahari.

Para pelaut sudah mengetahui cara penentuan posisi lintang dg menggunakan sextant, sejak jaman Yunani. Mengapa disebut sextant?

Karena dlm bahasa Yunani sextant berarti 1/6, ini terinspirasi sistem Babilonia Kuno yg membagi lingkaran & bola hingga 1/60 & 1/360

Penggunaan sextant ini meluas saat bangsa Arab berubah dari bangsa perompak – menjadi bangsa pedagang setelah menemukan Latin Sail

Karena bangsa Arab berlayar menyusuri pantai dari Barat ke Timur – maka sextant saja sudah cukup utk menentukan posisi & navigasi

Dan itu berlangsung terus , hingga dominasi bangsa Arab meredup – dan dimulainya pelayaran samudera, yaitu ke samudera bebas

Di tengah samudera di mana daratan tidak terlihat – maka posisi sebuah kapal tidak cukup bila yg diketahui hanya posisi lintang.

Columbus menemui masalah ini. Ia hanya menggunakan sextant & cuma berani berjalan lurus dari barat ke timur, menggunakan kompas.

Maka bila kita lihat jalur pelayaran Columbus menemukan Amerika – akan terlihat nyaris seperti garis lurus dari Timur ke Barat.

Kalau terbawa arus laut atau angin sedikit saja agak ke utara atau selatan – maka kapal bisa tersesat dan nyasar jauh sekali

Ketika kemudian kekuatan Eropa berlomba-lomba mencari jalan ke Dunia Baru (sebutan Amerika) – petaka ini sering terjadi – kapal nyasar

Banyak sekali kapal yg nyasar & pelayaran menjadi sangat beresiko. Semakin jauh ya semakin nyasar. Ini dibuktikan saat keliling dunia

Orang pertama yg sukses mengelilingi dunia: Ferdinan Magellan – melakukannya sangat lama: 1122 hari! & itupun berakhir tragis

Ia berangkat dengan 3 kapal berisi 270 awak thn 1519. Misi tersebut baru berakhir 1522. Dan itupun berahkir tanpa Magellan

Dalam perjalanan Magellan terbunuh di Filipina. Perjalanan diteruskan anak buahnya. Sempat singgah di Maluku

Saat perjalanan berakhir, dari 270 org yg memulai perjalanan, yg tersisa dari misi Magellan hanya 17 org dlm 1 kapal yg berhasil tiba

Kisah kesuksesan Magellan mengelilingi dunia – terutama ceritanya tentang Timur Jauh memikat berbagai negara Eropa utk menjelajah

Tetapi di sisi lain, awak ekspedisi Magellan yg menceritakan tentang sulitnya perjalanan menyeberang samudera – membuat ciut nyali

Dan seperti semua penemuan bermula dari kebutuhan – maka kekuatan laut Eropa mencari cara agar pelayaran samudera bisa berlangsung aman

Saat itu dua kekuatan besar bersaing: Inggris vs. Perancis. Keduanya berusaha menciptakan cara menentukan posisi bujur (timur barat)

Karena saat itu orang sudah tahu bahwa bumi itu bundar – maka secara intuisi bumi bisa dibagi-bagi dalam irisan seragam Barat-Timur

Dg membagi irisan sebesar 24 irisan seragam – maka orang bisa menggunakan jam untuk menunjukkan posisinya dari titik awal.

Misal orang berangkat dr titik X. Ia menyamakan jam-nya dg jam di titik X. Saat berlayar – jam itu akan tetap menunjukkan waktu X.

Jadi andai jam itu dibawa dr Inggris ke India – maka waktu yg ditunjukkan jam adalah waktu Inggris. Sekarang tinggal faktor matematik

Dengan asumsi bumi seperti bola – maka orang dulu sudah tahu bila lingkar bumi adalah sekitar 40.000 km. Angka ini dibagi 24 saja.

Ini berarti terdapat 24 irisan seragam yg lebarnya sekitar 1666 km (di khatulistiwa). Sekarang tinggal membandingkan waktu di jam.

Selisih waktu antara jam kota X & posisi waktu di mana kapal berada – akan menunjukkan kira2 posisi kapal berada di dalam peta.

Di peta tinggal tinggal dibagi saja 24 garis lurus atas ke bawah – yg jadi penunjuk posisi Bujur. Posisi Lintang tetap dari sextant

Maka dengan tiga peralatan: jam, sextant, & peta – pelaut bisa tahu persis posisinya di atas bumi. Tinggal mengarahkan saja ke tujuan

Perancis sebenarnya paling dulu bisa membuat jam akurat utk ditempatkan di atas kapal. Dibuat Christiaan Hygens, tapi jam ini ribet

Jam buatan Christiaan Huygens (org Belanda) ini menggunakan bandul rumit – susah kalau dibawa di kapal yg sering terombang-ambing

Orang Perancis pun menggunakan jam Huygens ini & menggunakan kota Paris sebagai titik acuan menyamakan posisi jam. Ada masalah baru.

Paris jauh di tengah daratan. Kapal kelas samudera tdk bs merapat. Alhasil perlu mempertimbangkan jarak antara Paris & pelabuhan.

Selisih ini yg membuat kapal2 Perancis kesulitan, krn tidak bisa lagi presisi. Apalagi pelabuhan Perancis ada di Laut Utara & Tengah

Inggris sebagai lawan Perancis, mengadakan sayembara berhadiah besar. Mencari pembuat jam paling akurat & bisa dibawa di atas kapal

Setelah berlangsung lama – muncul pemenangnya: John Harrison. Uniknya, Pak Harrison ini sebenarnya tukang kayu tp hobby bikin jam

Ia bisa membuat jam yg cukup akurat tanpa harus dipasangi bandul besar, sehingga jam ini bisa tetap presisi walaupun kapal bergoyang2.

Harrison beroleh hadiah besar senilai 20 ribu pound. Saat ini nilai itu setara 2,87 Juta pound atau sekitar Rp. 48 Milyar.

Jam buatan John Harrison relatif kecil berdiameter sekitar 20 cm. Cukup presisi. Saat melintas Atlantik – cuma terlambat 5 detik.

Segera saja kapal2 Inggris dilengkapi dg jam berdasarkan desain John Harrison. Tapi tentu perlu titik acuan kan? Pilih yg mana?

Nah, di mulut sungai Thames ada sebuah teropong bintang (observatorium) Greenwich. Bangunannya tinggi & terlihat Sungai Thames

Maka dipasang bola besar di atas observatorium. Tepat setiap jam 1 siang bola besar akan jatuh. Pelaut akan sesuaikan jam kapal

Karena acuan berada di pinggir sungai besar yg bisa dilayari kapal samudera – maka waktu Greenwich bisa lbh presisi drpd waktu Paris

Sehingga lengkaplah sudah: jam presisi + titik acuan yg mudah diamati. Maka dengan modal inilah Inggris menguasai pelayaran dunia

Dari observatorium Greenwich inilah maka disusun Greenwich Mean Time (GMT) yg jadi acuan waktu pelayaran & lalu penerbangan dunia

Kita bisa identifikasi beberapa kesalahan Perancis: jam-nya duluan selesai – tapi memilih titik acuan yg merepotkan pengguna

Andai orang Inggris menggunakan acuannya istana Buckingham misalnya – maka tentu juga akan merepotkan para pelaut yg perlu acuan

Namun karena Inggris lebih peduli pada faktor presisi & kemudahan pengguna – maka observatorium kuno Greenwich yg dipilih sbg acuan

Awalnya disebut Greenwich Meridian Time – tapi kemudian krn faktor penyesuaian musim maka jadi Greenwich Mean Time

#GMT meluas penggunaannya setelah Konferensi Internasional tahun 1884. Dan seperti biasa, Perancis tetap ngotot pakai Paris.

Sesudah puas merepotkan diri sendiri, akhirnya Perancis menyerah – mereka akhirnya juga mengadopsi penggunaan #GMT pada tahun 1911.

Dari penentuan titik acuan #GMT inilah lalu negara2 di dunia menyusun zone waktunya masing-masing. Prinsipnya sama: 1 jam setiap 1666 km.

Lalu dari titik #GMT ini pula dibagi garis tanggal Internasional – di sekitar jarak 12 jam dari GMT yg posisinya kira2 di tengah Pasifik.

Utk Indonesia, zone waktu pun dibagi berdasarkan titik acuan #GMT – Barat, Tengah, Timur yg berselisih 1 jam. Yg unik mungkin Cina & Russia.

Russia menjadi negara yg paling banyak memiliki zone waktu yaitu 9 – karena merentang sangat panjang meliputi ribuan kilometer. #GMT

China menjadi unik, karena sekalipun negara itu luas sekali – tetapi cuma punya 1 zone waktu. Semuanya harus ikut waktu Beijing

Jadi anda bayangkan orang yg tinggal di Urumqi (berjarak 3820 km dari Beijing) – harusnya punya jam yg 2-3 jam lebih awal dari Beijing

Saat orang Beijing baru bangun (semisal 6 pagi) – matahari di Urumqi sudah tinggi (setara jam 9), tapi tetap pakai waktu Beijing jam 6

Anda bisa bayangkan repotnya mengkonversi waktu Beijing vs. posisi matahari – bagi kaum Muslim yg sedang berpuasa di Urumqi

Ada juga kasus unik semisal Singapura yg harusnya +7 jam dari #GMT – eh malah pasang waktu +8 jam. Mungkin biar sama dg Beijing & Hong Kong.

Tentu tiap negara boleh2 saja pasang acuan sendiri (Jakarta Mean Time? – pake Monas?), tapi akan sulit utk bisa diterima universal.

Maka akan sama dgn itu, bila pemerintah Arab Saudi mau membuat Mekkah Mean Time (MMT) – tentu boleh saja. Tapi tujuan praktisnya apa?

Dan tentu kita lihat dari apa yg terjadi saat Perancis ngotot pakai acuan Paris – mau memudahkan atau malah nyusahin orang?

Ooopsss maaf saya ada KESALAHAN SANGAT BESAR dalam penjelasan soal perbedaan waktu antara Beijing & Urumqi.

Harusnya Beijing 3 jam ada di depan Urumqi. Berarti saat orang Beijing sudah pergi kantor jam 8 – di Urumqi hari masih gelap. Jamnya sama.

Jadi penjelasan saya yang awal (Urumqi di depan Beijing) – adalah terbalik. MOHON MAAF ya….

Oh iya, ada beberapa bagian negara yg menerapkan fraksi berbeda 30 menit ketimbang 1 jam yg jadi fraksi normal. Boleh2 saja

Dalam pelayaran & peta tiap 4 derajat itu harusnya beda waktu 15 menit

Saya tidak paham apa fungsi medan magnet rendah dg titik acuan waktu. Sudah era Jam Atom: Presisi hingga 3 Juta tahun.

Posisi Utara & Selatan Magnetik berbeda dg Posisi Utara & Selatan Geografis. Yg magnetik sudah lama ditinggalkan navigasi modern.

Jam Atom adalah jam yg menggunakan denyut aktivitas partikel atom sebagai penanda siklus. Jadi sangat2 presisi.

Paling banyak ada di satelit navigasi. Sistem GPS pakai jam atom. RT @pudji_lestari: apa ada yang sudah pakai jam atom ini? siapa?

Jam atom selain sangat presisi – jg bisa menghitung waktu sampai satuan yg sangat2 kecil, semisal sepersemilyar detik. Penting buat riset.

tambahan:

Daylight Saving Time adlh periode penyesuaian jam berdasarkan panjang hari di sekitar musim dingin.

tentang mecca mean time:

Baru saya baca ternyata ide Mecca Mean Time itu satu paket dg promosi Menara Jam Mekkah yg nantinya jadi jam terbesar di dunia.

Menara Mekkah itu akan punya jam yg diameternya 46 meter. Adapun menara itu akan berdiri setinggi 600 meter. Bangunan tertinggi No. 2 dunia.

Jam di Menara Mekkah ini nantinya akan bisa terlihat dari jarak 29 km. Dihiasi oleh 2 juta lampu LED yg memberitahu waktu shalat.

Tagged:
Posted in: Uncategorized