@hotradero on CD

Posted on August 30, 2010

0


CD pun sebenarnya musik format digital. CD memainkan kembali data yg terekam secara digital lewat sampling 44100 kali perdetik.

Jadi sebenarnya apa yg terjadi saat CD dimainkan, adalah suara tunggal tersendiri yg berbunyi 1/44100 detik. Tp berlangsung terus menerus.

Telinga manusia mendengarnya seperti alunan yg kontinu, padahal aslinya terputus2 setiap 1/44100 detik. Itu “kelemahan” telinga manusia.

Dan karena pendengaran manusia hanya bisa mendengar dari rentang 20 Hz hingga 20 ribu Hz, maka tdk semua suara disampling saat bikin CD.

Sebenarnya efek psikologis saja. Karena kalaupun rentang frekuensi dilebarkan, tidak banyak hal tersisa yg bisa didengar di ujung2 rentang.

Jadi ibaratnya anda mendengar bersama anjing/kucing anda – mereka masih bisa mendengar sesuatu yg berarti sementara telinga anda tidak.

Saya mungkin masuk kategori “old school” krn dulu sempat mengalami munculnya mp3 (thn 1990-an) pertama kali & bagaimana susahnya bikin mp3.

Apa yg disebut sebagai mp3 aslinya adalah bagian dari format MPEG (Motion Picture Expert Group) layer 3, yaitu yg khusus isinya suara.

Di awal 1990-an muncul usaha agar film bisa dimainkan di keping CD. Agar bisa muat maka dilakukan kompresi gambar & suara via algoritma.

Bersamaan proyek MPEG juga ada proyek JPEG (Joint Photographic Experts Group) yg melakukan kompresi gambar diam. Hasilnya? Format jpg.

Dulu, membuat file mp3 tdk bisa langsung dari CD. Harus di-convert dulu ke file format .wav yg ukurannya >100 Mbyte baru bisa ke mp3.

Dan proses itu menyebalkan. Mengapa? Karena di awal 1990-an – hard disk ukurannya baru 1-2 Gigabyte. Itupun harganya mahal sekali.

Akibatnya, di beberapa komunitas pengguna komputer, berkembang apa yg namanya “Sneaker net”. Modalnya setumpuk disket & sepatu/sendal jepit.

Sedemikian jelek kualitas komunikasi data di awal 90-an, sampai sneaker net berkembang. Selain itu juga marak mahasiswa membobol telp umum.

Tagged:
Posted in: Uncategorized