@hotradero on ekspansionisme Jepang sampai akhir PD II

Posted on August 9, 2010

0


Kucinya ada pd 1. Pertempuran Tsushima 2. Perjanjian Versailles 1919. RT @romiprays: alasan Jepang perang dan menguasai asia…

Jepang selalu menganggap Russia sebagai ancaman paling serius, karena hanya Russia yg punya akses darat ke wilayah Pasifik.

Di sisi lain, menurut Jepang Amerika bukan ancaman, karena di luar Hawaii – Amerika tidak dirasa bersifat imperialistik. Contoh: Filipina.

Amerika pernah berencana menjadikan Cuba & Filipina sebagai negara bagian – tapi dibatalkan karena keduanya dominan Katolik.

Di dalam Amerika, sentimen Anti-Katolik di masa sebelum abad 20 – sangat kuat & orang Amerika sendiri cenderung sentris dalam negeri.

Setelah Jepang berhasil mengalahkan armada laut Russia di Selat Tsushima – maka rasa percaya diri Jepang menjadi sangat kuat.

Dan peristiwa tahun 1905 itu menjadi penting. Untuk pertama kalinya orang Eropa bisa dikalahkan orang Asia dalam pertempuran besar.

Faktor ini juga yg mendorong banyak orang Asia (termasuk Bung Karno) menjadi lebih percaya diri. Orang Eropa ternyata bisa kalah.

Jepang sendiri sedang bergerak menjadi negara industri. Negara ini cepat sekali bergerak menuju modernisasi setelah Restorasi Meiji.

Dan kita tahu, orang Amerika (Komodor Perry) yg datang ke Jepang & memaksa perubahan fundamental di Jepang – tanpa niat menduduki Jepang.

Dan Perang Russia-Jepang pada akhirnya berhenti dan perjanjian damai antara keduanya disponsori oleh Presiden Roosevelt dr. Amerika.

Pulau Shakalin jatuh ke tangan Jepang sebagai ganti rugi. Pulau ini dikuasai Jepang hingga berakhirnya PD II, saat Sakhalin direbut Soviet.

Melihat betapa jinaknya Amerika, lemahnya Russia & tingginya percaya diri Jepang sebagai negara industri – Imperialisme cuma tunggu waktu.

Jumlah penduduk Jepang pun meningkat tajam, sementara sumber daya alam relatif sangat terbatas. Maka Jepang harus berekspansi ke luar.

Tapi tentu saja mengalahkan Russia belum berarti bisa menduduki negara2 Asia lain yg berada dalam kekuasaan Eropa (Inggris, Perancis).

Maka sasaran Jepang untuk pemenuhan kebutuhan sumber daya dimulai lewat pendudukan Korea & selanjutnya China yg relatif lemah.

Jepang sudah pernah menang dalam pertempuran melawan China kira2 10 tahun sebelum Perang Jepang-Russia. China lemah di bawah Dinasti Ching.

Dinasti Ching adalah Dinasti di China yg didirikan oleh orang Manchuria setelah mereka berhasil menumbangkan Dinasti Ming di tahun 1600-an.

Jadi Dinasti Ching sebenarnya pendudukan oleh kaum minoritas Manchu (cuma sekitar 5-7% total jumlah penduduk China). Mayoritas orang Han.

Kekalahan dalam Perang melawan Jepang – membuat pergolakan di dalam negeri China – muncul gerakan nasionalis & ditumbangkannya Ching.

Dan nasionalisme China dipelopori oleh Dr. Sun Yat Sen yg sempat lama belajar di Amerika & menyerap semangat nasionalisme ala Amerika.

Landasan Nasionalisme China: San Min Chu-i sebenarnya diinspirasikan oleh Prinsip Government By, For, To The People-nya Abraham Lincoln.

Kita sudah lihat di sini gabungan modernisasi Jepang, terbelakangnya negeri Asia lain, bisa kalahnya orang Eropa, & Amerika yg tdk ambisius.

Pendudukan Jepang atas Asia masih relatif terbatas pd awalnya, karena bangsa Eropa juga masih bercokol di Asia. Hingga lalu pecah PD I.

Dan kita tahu, PD I pecah setelah kekuatan Eropa berseteru setelah Austro-Hungary pecah pasca pewaris tahtanya dibunuh di Sarajevo.

Kita kembali lagi ke asal mula imperialisme Jepang. Saat PD I pecah – Jepang berpihak ke Sekutu. Tujuannya? Merampas koloni Jerman di Asia.

Jerman sempat punya pengaruh juga di China terutama setelah Dinasti Ching terguling & China dalam proses membentuk diri jadi negara.

Jepang menduduki Tsingtao di China yg sebelumnya merupakan klaim Jerman di Asia. Juga beberapa pulau kecil Pasifik. Tsingtao ini yg penting.

Ini penting, karena setelah Restorasi Meiji – Jepang belajar militer pada orang Prussia (yg kemudian bergabung dlm Jerman).

Ini berarti Jepang sudah bukan cuma bisa mengalahkan orang Russia – tetapi juga orang Jerman (yg bekas guru militer mereka).

Pendudukan Tsingtao (ejaan Piyin: Qingdao) oleh Jepang ini, yg lalu diikuti oleh pendudukan Jepang atas semenanjung Korea lalu Manchuria.

PD I memang berakhir dg kekalahan Jerman & Axis. Tetapi Eropa Barat pun mengalami pukulan secara ekonomi yg cukup serius dlm PD I ini.

Trench Warfare yg terjadi antara Perancis & Jerman makan korban sangat besar. Pihak Sekutu korban jiwa 39 Juta jiwa. Axis: 24 Juta.

PD I lalu ditutup dengan Perjanjian Versailles 1919. Perjanjian ini disponsori Presiden Amerika Woodrow Wilson. Ada poin penting di sini.

Woodrow Wilson menyatakan: Eropa sudah waktunya berhenti membangun imperialisme, karena mereka sudah lemah. Biarkan Asia bebas.

Pernyataan Woodrow Wilson itu dianggap angin lalu oleh kekuatan2 Eropa – padahal yg disampaikan Wilson itu benar: Eropa sudah bonyok (kekuatan militer mereka terkuras di PD I, warga mereka banyak yg mati – tapi masih ngotot mau punya koloni jauh)

Perjanjian Versailles 1919 itu memang kental sekali nuansa balas dendam (terutama Prancis) yg ingin membangkrutkan Jerman.

Dan memang Prancis menjadi negara imperialis besar Eropa yg masih ngotot mempertahankan jajahan mereka (Vietnam & Aljazair) hingga 1960-an.

Dan salah satu konsekuensi dari Perjanjian Versailles 1919 adalah didirikannya Liga Bangsa-Bangsa (LBB) untuk mencegah berulangnya PD.

Secara prinsip LBB berhasil bangun pondasi berdirinya lembaga2 internasional mengatasi masalah2 sosial antar negara (perbudakan, pengungsi)

Tetapi dalam masalah politik ternyata LBB kemudian tidak bergigi – setelah muncul insiden Mukden di Manchuria. Jepang menginvasi Manchuria.

Jepang memiliki hak menempatkan tentara di Manchuria Selatan, tetapi kemudian Jepang mengklaim bahwa mereka diserang tentara China.

Dengan dalih mengamankan posisinya dari sabotase “teroris China” – maka Jepang memperluas posisinya di Manchuria. Dinamakan Manchu Kuo.

Lebih dari itu, di tahun 1932 – Jepang menempatkan kembali Kaisar Ching – Pu Yi sebagai kaisar boneka. Biarpun Manchu Kuo tdk diakui umum.

Padahal Pu Yi dan Dinasti Ching dinyatakan sudah runtuh sejak China mendeklarasikan Nasionalisme-nya di bawah Sun Yat Sen tahun 1910.

Nah pemerintahan boneka Pu Yi ini yg kemudian membuat pecah perang terbuka antara Jepang dan China. Termasuk pemboman Shanghai 1932.

Bagi yg nonton film “Shanghai” yg sekarang ada di bioskop — nah salah satu latar belakangnya adalah peristiwa tersebut: Invasi Jepang.

…dan sekarang anda bisa ngerti kan kenapa cerita saya sempat berputar-putar dulu soal China & Dinasti Ching – sebelum kembali lagi Jepang.

Karena imperialisme Jepang dalam skala besar baru dimulai setelah pendudukan Manchuria & pecahnya perang terbuka Jepang & China.

Setelah Sun Yat Sen wafat 1925 karena kanker hati – kekuasaan politik di China terombang-ambing antara pusat & para Warlords. Tidak stabil.

CATATAN: China yg terpecah2 memang seperti penyakit kambuhan yg sudah berlangsung ribuan tahun – sejak dipersatukan Chin Shih Huang Ti.

Saat kekuasaan di pusat lemah – maka China gampang sekali terpecah. Pernah menjadi 3 negeri (Sam Kok) & malah pernah juga jadi 60 negeri.

Biasanya, saat kekuasaan pusat melemah – maka muncul warlords yg mendirikan kekuasaan lokal yg lalu saling bertikai satu sama lain.

Di saat yg sama, Kekuatan Komunis China pun muncul. Keadaan jadi tambah runyam – banyak sekali kekuasaan yg merobek2 China.

Dan seperti biasa – sekali terjadi keadaan seperti begini – maka kekuatan asing pun akan ikut nebeng. Dalam hal ini Jepang via Pu Yi.

Pendudukan Jepang atas Manchuria (bersama dg pendudukan Korea) menjadi asset utama Jepang dalam menggerakkan industri mereka.

Sialnya, industri ini banyak terkonsentrasi ke arah militerisasi & ekspansionis. Saat itu jumlah penduduk Jepang pun melonjak tajam.

Ekspansionisme Jepang inilah yg makin meluas setelah masuk Perang Dunia II yg pecah setelah Jerman menginvasi & menduduki Polandia.

Perang di Eropa – telah menyedot perhatian & sumber daya negara2 Eropa, sehingga tdk mampu lagi menjaga koloni/jajahan mereka di Asia.

Maka satu persatu koloni tersebut jatuh ke tangan Jepang. Dari Indochina (Prancis) sampai ke Nusantara (Belanda) & Burma (Inggris).

Apa yg sudah pernah disebutkan oleh Woodrow Wilson ternyata benar. Eropa memang sudah dari awal tidak mampu lagi menjaga koloni-nya.

Dan Amerika saat itu sibuk membantu sekutu-nya di Eropa yg diduduki oleh Nazi Jerman. Secara teknik militer, Amerika belum ada apa2-nya.

Konsentrasi Amerika ke arah Eropa – membuatnya lengah. Hingga terjadi blunder yg dilakukan oleh Jepang: membom Pearl Harbor Des. 1941.

Jepang berpikir bahwa Amerika yg lemah di angkatan laut – tdk akan punya kekuatan untuk menjangkau daratan Jepang yg terpisah jauh.

Padahal di dalam Militer Jepang sendiri banyak yg tidak setuju invasi Pearl Harbor. Mengapa? Karena tahu persis potensi kekuatan Amerika.

Mereka bisa tahu, karena banyak di antara para perwira tersebut alumni sekolah Amerika. Semisal Isoroku Yamamoto yg lulusan Harvard.

Isoroku Yamamoto terpaksa memimpin penyerangan Pearl Harbor – akibat tekanan para politisi Jepang – di antaranya Hideki Tojo.

Yamamoto sendiri menyatakan bahwa serangan ke Pearl Harbor seperti “membangunkan raksasa yg sedang tidur”. Sangat berbahaya.

Dan di kemudian hari kita ketahui – bahwa Isoroku Yamamoto memperkirakan Jepang hanya mampu unggul sekitar 6 bulan hingga 1 tahun.

Tapi politisi Jepang tidak mau mendengar pendapat Yamamoto. Jepang tidak cukup mencaplok China – tp jg mengincar ex-koloni Eropa.

Salah satu yg paling diincar tentunya adalah Malaka & Hindia Belanda – sebagai sumber pasokan karet, timah, & minyak yg sangat penting.

Berbeda dg kolonial Eropa yg tertarik pd sumber alam perkebunan (teh, kopi, gula,kina, dll), Jepang lebih tertarik sumber alam industri.

Dan ini cocok dg gambaran cita2 modernisasi Asia yg ada di benak para pimpinan ex-koloni Eropa yg ada di Asia. Termasuk Bung Karno.

Maka Jepang pun memainkan kartu Versailles 1919 – yaitu mendorong nasionalisme di tingkat ex-koloni Eropa – agar membantu Jepang.

Di situ kita bisa melihat bodohnya kekuatan Eropa yg tidak peduli pd saran Woodrow Wilson. Maka bagian Asia pun ikut berontak.

Dalam kalkulasi Jepang, setelah melebarkan pengaruhnya di Asia – maka Jepang akan mengadakan gencatan senjata & tawaran damai.

Kalaupun ada wilayah yg harus dilepas – tidak apa — toh Jepang sudah melebarkan pengaruh dari Sakhalin ke Burma, Australia, Pasifik.

Didiskon 50% pun – wilayah itu masih akan sangat luas & sangat penting potensi ekonominya. Jepang tetap akan jadi superpower regional.

Tetapi seperti yg saya bilang: sejarah berjalan paralel. Setelah sukses menjarah Eropa – Hitler melakukan blunder – menginvasi Soviet.

Operasi Barbarossa yg dilancarkan Hitler – menikam Soviet dr belakang. Kenapa? Karena mereka punya perjanjian rahasia tdk saling menyerang.

Jerman mengalami korban 250 ribu orang tewas dlm Operasi Barbarossa yg gagal itu. Semua gara2 Hitler keras kepala & tdk mau dengar.

Akibat kekalahan Hitler di front Timur itu – maka Soviet merangsek maju mengisi ruang kosong yg ditinggalkan mundur. Sekutu di atas angin.

Akibatnya, Amerika yg sebelumnya menaruh perhatian ke Perang Atlantik, bisa mengendurkan perhatian & beralih ke Perang Pasifik.

Di sini apes-nya Jepang. Serangan Pearl Harbor dianggap sangat serius. Mendorong industrialisasi militer Amerika dg kecepatan sangat tinggi.

Lebih tepatnya, semua mati karena Hitler… RT @sabar_tambunan: 250ribu mati sebagian besar bukan karena peluru, tapi badai salju!

Hitler terbuai oleh serangan kilat 1939 atas Polandia. Cuma 6 minggu kelar. Dipikirnya dlm bisa menaklukkan Soviet dlm waktu singkat.

Itu sebabnya tentara Jerman tdk diperlengkapi dg cukup utk menghadapi perang dlm musim dingin. Karena dipikir akan segera selesai.

Eh balik lagi ke Pasifik ya. Nah akselerasi Amerika di bidnag teknologi industri militer jg sangat cepat. Contoh pd pesawat tempur.

Pesawat Zero yg dibikin Jepang – sangat unggul dalam kemampuan manuver. Pesawat Amerika tdk ada yg mampu mengimbangi manuvernya.

Sempat 2 tahun berjaya di udara, sebelum Amerika mampu membuat pesawat tempur tandingan. Sebelum itu Amerika andalkan konfigurasi terbang.

Sementara di sisi Jepang, setelah pesawat Zero yg sukses – tdk ada desain baru yg signifikan & unggul. Strategi berubah ke Kamikaze.

Sialnya, Amerika dlm waktu singkat berhasil membuat pesawat yg manuvernya lebih bagus & jarak tempuh lebih jauh. Kamikaze-pun tdk efektif.

Banyak pesawat Zero yg ditugaskan utk operasi bunuh diri Kamikaze – berhasil ditembak jatuh dari jauh oleh pesawat seperti F4U & F6F

Bagi yg dulu menggemari film seri TV “Baa Baa Blacksheep” & Peppy Boyington – nah pesawat yg digunakan itu F4U Corsair di medan Pasifik.

Begitu dominasi Jepang di udara runtuh karena kurangnya inovasi – maka Jepang terpaksa jadi bertahan – terlebih setelah misi Doolittle.

Saya bisa ingat tentang pesawat2 Perang Pasifik karena dulu mainan favorit saya “Aces of Pacific” yg saya baca lengkap sampai ke manualnya.

Betul, tapi kamikaze jadi kurang efektif ketika pesawat Amerika bisa berpatroli dari jarak lebih jauh & menembak jatuh Zero @azvinl

Di perang kapal, strategi lompat kodok – yg dilakukan oleh Admiral Chester William Nimitz sukses meredam kekuatan kapal perang Jepang.

Strategi tersebut dilakukan dg mengecoh Jepang pd pulau2 yg dijaga ketat. Yg sepi justru dijadikan basis makin mendekat ke Jepang.

Karena Jepang terlalu ekspansif – maka ketika serangan Amerika mulai mendekati Jepang – terpaksa pasukan dipanggil pulang ke pusat.

Dan ketika semakin mendekat – maka jumlah pulau yg tersisa makin sedikit – pasukan Jepang makin terkonsentrasi & punya niat ber-jibaku.

Maka kita melihat, semakin mendekati daratan Jepang – ongkos kematian makin meningkat di pihak Amerika. Repot nih. Gimana hadapinnya?

Tentara Jepang yg ditempatkan pd pulau2 terdekat jg semakin nekad, krn mereka diindoktrinasi: kalau menyerah pasti akan dibunuh Amerika.

Pada pertempuran Okinawa, 48% tentara Amerika alami stress berat. Di pertempuran Iwo Jima tentara Amerika yg tewas 10% – cidera 20%.

Dalam kalkulasi Amerika: kalau sampai harus mendarat di Jepang daratan utk memaksa menyerah – korban bisa mencapai 1 Juta orang…

Atas hal itu, maka ketika proyek Bom Atom Amerika tuntas 16 Juli 1945 (bom Trinity di New Mexico) – target jadi jelas: Jepang.

Sesudah fire bombing Tokyo Juli 1945 gagal membuat Jepang menyerah (padahal korban sudah 200 ribu org) – maka harapan cuma pd bom atom.

CATATAN: jumlah korban bom atom masih lebih sedikit daripada korban pemboman atas Tokyo Juli 1945.

Maka selanjutnya dijatuhkan bom atom ke dua, tanggal 9 Agustus 1945 di Nagasaki. Dan sesudah itupun Jepang belum memberi tanda2 menyerah.

Baru pada tanggal 15 Agustus 1945 – Jepang mengumumkan menyerah tanpa syarat. Ini sangat melegakan bagi Amerika karena dua hal.

Pertama: Jepang tidak tahu bahwa Amerika tdk punya bom atom lagi. Kedua: Operasi pendaratan di daratan Jepang bisa dibatalkan.

Rencana operasi pendaratan di bulan September-Desember 1945 – diperkirakan bisa makan korban sangat besar di kedua pihak. Jutaan org.

Karena penduduk sipil Jepang juga sudah disiapkan untuk menyerang tentara Amerika kalau dilakukan pendaratan di daratan Jepang.

Jadi, kalau kita melihat PD II, harus dalam konteks sejarah waktu itu. Bahwa keputusan membom atom Jepang adalah keputusan strategis.

Memang korbannya akan banyak – tapi mau gimana lagi? Tokyo dibom dg korban 200 ribu org saja Jepang masih nggak mau menyerah.

Saat gelombang pemboman Tokyo Juli 1945- rumah2 Jepang yg dari kayu banyak terbakar. Bau kayu terbakar bisa sampai tercium pilot Amerika.

Dan reaksi di Asia lebih tajam lagi. Karena Jepang terkenal sangat kejam terhadap penduduk China semisal di pendudukan Korea & Nanking.

Dalam “Rape of Nanking” – sekitar 260 ribu org China dibantai. Pakai bom? Nggak. Pake samurai. Itu sebab kebencian thd Jepang kuat di situ.

Ada argumentasi: setiap bulan Jepang berkuasa lebih lama di Asia – korban org Asia & Amerika yg terbunuh lebih besar daripada bom atom.

Maka kita harus melihat kompleksitas perang – dalam perspektif di masa peristiwa itu berlangsung & peristiwa yg berjalan paralel.

OK kira2 segitu dulu tentang ekspansi Jepang hingga Perang Dunia II berakhir. Dan kita tahu 2 hari setelah Jepang menyerah : Proklamasi.

Dan betul, Jepang menyerah dg harapan Amerika menjaga agar Soviet tidak mencaplok wilayah2 Jepang di utara, setelah Sakhalin direbut Soviet.

Saya tidak akan komentari pendapat2 pribadi soal Bom Atom – yg perspektif-nya tidak diletakkan pada kondisi & keadaan masa itu.

Esensi belajar sejarah adalah memahami cara orang berpikir pada masa suatu peristiwa berlangsung – BUKAN menggunakan pola pikir kini.

Saya ingat dokumentasi wawancara penduduk China setelah bom atom. Mereka tanya: Lho kenapa cuma dua bom? Lalu kenapa bukan Tokyo?

Untuk org yg berada pada masa itu – sepertinya memang demikian. Cara lain sudah ditempuh & terbukti mahal & lambat. @malaikatkesasar

Tagged:
Posted in: Uncategorized