@hotradero on economics

Posted on August 3, 2010

0


Siapa yg menghitung inflasi? BPS (badan pusat STATISTIK) Ini bukan masalah benar atau salah tp masalah anda ngerti atau tidak. @rolan_md

Ada orang yg bersikap ketus tentang para ekonom, yang ia katakan “meramal salah melulu”. Tapi apa iya ekonomi itu tentang meramal?

Ekonomi adalah ilmu tentang tingkah laku manusia terkait dgn keterbatasan. Karena yg diamati manusia secara agregat – maka perlu statistik.

Agregat itu maksudnya secara keseluruhan. Jadi bukan cuma si A si B si C dst., tetapi dalam suatu kelompok masyarakat besar atau kecil.

Justru meramal bukanlah hal yg paling utama dari ekonomi. Hal yg paling utama adalah mengamati dan menjelaskan. @lutfialkatiri

Ekonom membutuhkan statistik – tetapi bukan berarti ekonomi adalah semata-mata statistik. Tingkah laku manusia itu sangat kompleks.

Ekonomi itu juga bisa terkait cara pandang / pola pikir. Jadi tidak selalu berupa ilmu yg bersifat kaku. Dan aspek ini berlaku sehari2.

Mengapa di bioskop harga makanan & minuman lebih mahal, misalnya. Atau bagaimana membagi pembayaran tagihan makan bersama teman2.

Ekonomi, karena terkait kelangkaan & keterbatasan – juga bisa menggambarkan mengenai usaha mencari/memperoleh jodoh. Itu bentuk pasar juga.

Hati2, perilaku manusia bersifat kualitatif & bisa mengayun ekstreme. RT @jefry_jef: Tp garis trendline bisa ditarik kan?

Apakah statistik bisa meramalkan meledak-nya video klip Sinta-Jojo “keong racun”? Tentu tidak. Itulah masalah urusan dg psikologi manusia.

RT @endalayukallo:
Betul!. Sama spt peramal cuaca, bkn meramalnya yg penting. RT @hotradero meramal bukanlah hal utama ekonomi; tp mengamati dan menjelaskan.

kajian ekonomi mikro semisal “game theory” – justru terkait hal-hal yg tidak pasti. Bisa terdapat beberapa ekuilibrium @attilahasfo

Betul. Ketidak mampuan meramalkan justru membuat suatu kajian menjadi menarik & hidup. Hidup sendiri kan tidak pernah linear. @bukik

Apakah ekonom selalu sepakat? Ternyata tidak. Empat ekonom berkumpul bisa muncul 4 pendapat berbeda. Bisa 5 kalau salah satunya J.M Keynes.

Tapi secara umum, ekonom selalu setuju sumber daya & waktu bersifat terbatas (maka ada harga/ongkos-nya) & manusia bereaksi thd insentif.

Kalau ada ekonom yg tidak memikirkan ongkos/konsekuensi – berarti tidak menyadari pondasi ekonomi – yaitu adanya kelangkaan. Pensiun saja.

Memang keduanya dekat. Dan keduanya bisa saling memperkaya. RT @lutfialkatiri: Jadi mirip dengan sosiologi

Ekonomi itu selalu terkait dengan orang lain. Robinson Crusoe yg terdampar sendirian – aspek ekonominya jadi sangat-sangat-sangat terbatas.

Ekonomi di level Crusoe paling cuma: mending makan kerang atau kelapa? Pakai pancing atau jala? Mendingan tidur atau mandi?

Crusoe tdk perlu rebutan dg orang lain. Semua tersedia utk dirinya sendiri. Ekonomi Crusoe cuma dibatasi pilihan pribadi bukan org lain.

RT @raditya_dika:
@hotradero jadi ingat, sewaktu masih kuliah dulu buku teori makroekonomi lanjutan saya contoh2nya dr kehidupan sehari2. Ex: main tennis.

Dlm ekonomi juga ada hal2 yg bersifat counter-intuitive. Misal: Bagaimana cara tingkatkan ekspor? Dgn cara bebaskan impor terlebih dahulu.

Contoh lain: kalau sebagian masyarakat menabung – baik bagi pertumbuhan ekonomi. Kalau semua menabung? Ekonomi malah kolaps.

Atau contoh hal counter-intuitive lainnya: harga naik memang masalah – tetapi kalau harga turun terus — masalah yg timbul LEBIH BERBAHAYA.

Hal2 counter-intuitive tersebut krn ekonomi juga menyangkut mekanisme umpan balik (feedback). Dan makin banyak yg terlibat – makin kompleks.

Ketika ekonomi ketemu politik – keadaan jadi tambah rumit lagi. Karena ekonom selalu percaya ongkos/pengorbanan. Politik tidak selalu.

Politik terkait dengan kepentingan masyarakat/konstituen. Padahal ekonomi tahu bahwa makin banyak yg terlibat maka akan makin kompleks.

Tidak selalu rumit kok. Hanya kalau kita ngotot mau meramalkan segala sesuatu – maka jadi makin rumit & menyusahkan diri sendiri. @v4jr4

Kalau harga turun – org akan menunda pembelian, nunggu lebih murah. Itu berarti penjualan turun – nah nanti siapa yg bayar gaji? @benzbara

Ketika gaji berkurang, maka org akan semakin ngirit. Barang2 makin nggak laku. Penjualan makin turun parah. Gaji akan makin jeblok lagi.

Kalau dulu ngggak beli krn nunggu harga lebih murah – sekarang nggak beli karena nggak punya duit. Keadaan begini sulit sekali dipulihkan.

Deflasi – adalah yg menyertai Great Depression. Keadaan orang BERHARAP harga bisa berhenti turun & kalau bisa naik – supaya ekonomi pulih.

Kalau semua orang cuma mau nabung, maka konsumsi akan berkurang. Barang nggak laku. Gaji turun. Dan efeknya akan mirip Deflasi. @saintpooney

Apa yg membuat Jepang ekonominya stagnan selama hampir 20 thn terakhir – adalah saving rate tinggi PLUS kecenderungan deflasi.

Sudah dikasih bunga rendah-pun (bahkan nol) – orang Jepang lebih suka nabung. Ekonomi jadi stagnan, terpaksa ekspansi ke luar Jepang.

Betul. Dan di ekonomi banyak sekali paradox2. RT @w_reksa: @hotradero paradox of thrift ya?

Ketika suatu negara bergantung pada ekspor – maka nasib ekonominya akan diombang-ambingkan oleh negara pembeli. Dan ini bisa celaka.

Ekonomi Jepang susah banget pulihnya – eh begitu pulih – muncul krisis subprime 2008. Jepang juga yg duluan anjlok ekonominya. Dalam pulak.

China jg mengalaminya secara terbatas. Ekonominya tergantung pd konsumsi Amerika. Begitu orang Amerika ogah belanja, ekonomi China terseret.

Sekarang memang ekonomi China kelihatan pulih, tapi lebih banyak karena belanja pemerintah & infrastruktur. Ini tidak bisa terus2-an.

Tagged:
Posted in: Uncategorized