@kopiganja on inferiority complex

Posted on August 2, 2010

0


Banyak orang nyangka Inception itu khayalan total. Padahal kuat sekali dasar ilmiahnya. Para penjelajah alam bawah sadar pasti mengerti😉

Inception makes perfect sense🙂

Yang menggeluti psikoanalisis, yang menggandrungi surrealisme, yang kenal dengan psychedelia, mestinya akan fasih mengikuti film ini🙂

Sering dikatakan manusia itu lahir ke bumi seperti kertas yang putih. Benar sekali. Kertas putih inilah alam bawah sadarnya.

Apapun yang terrekam di kertas ini adalah residu dari pengalaman orang tersebut, proses yang dimulai bahkan sejak dalam kandungan.

@puffythink kalau seperti deskripsi di Inception dengan peralatan canggih dan terkoneksi mungkin tidak ya…

@puffythink tapi ‘terkoneksi’ melalui penggunaan mind-altering substance secara kolektif, itu beneran terjadi.

Tokoh seperti Yusuf, si peracik designer drugs itu, banyak ditemukan di kampus-kampus ternama di luar negeri🙂

Saya kurang tau bagaimana di sini, tapi sepertinya anak-anak ilmu pasti di sini lebih senang memendam psyche mereka di rumah-rumah ibadah.

Yang jelas alam sadar kita drivernya adalah alam bawah sadar, dan alam bawah sadar tadi terbentuk dari rekaman pengalaman sepanjang hidup.

Banyak masalah psikis yang dialami seseorang ketika dewasa dapat dilacak ke trauma-trauma, besar dan kecil, yang dialami sebelumnya.

Contoh: Inferiority complex. Anda pasti kenal seseorang di sekitar anda yang ngotot dalam berprestasi, alias ngoyo. Overachiever istilahnya.

Kemungkinan orang ini pada masa kecilnya sering mendapat tekanan negatif dari lingkungannya, teman, guru atau bahkan keluarganya sendiri.

Disepelekan, dilecehkan, dihina, dibanding-bandingkan dengan saudaranya yang lain, teman sekelasnya: “Ayo dong kamu kayak si anu yang hebat”

Anak ini tumbuh minder, tapi memendam amarah. Hasilnya ketika dewasa, orang ini akan berusaha sekuat tenaga membuktikan dirinya.

Seorang pengidap inferiority complex biasanya berprestasi, namun sangat mudah menyepelekan orang lain yang tidak ‘sehebat’ dia.

Bagi dia manusia terbagi dalam dua kategori: loser/winner. Kalau anda bukan siapa-siapa, jangan harap dipandang sebelah mata olehnya.

Kenapa begitu? Karena secara bawah sadar ia akan teringat dirinya sendiri, trauma disepelekan pada masa kecil.

Pada dasarnya ia tidak bisa menerima dirinya apa adanya, bahkan membenci dirinya sendiri.

Self-image yg rusak ini dia tutupi dgn berbagai tabir: perbaikan tampilan fisik, super-prestasi, pilih-pilih teman hanya yg hebat, cantik…

Ya, politik pencitraan lah. Segala sesuatu tentang dirinya adalah kosmetik. Di dalamnya kropos, kopong, hampa.

Semua itu karena dia menolak untuk konfrontasi ‘demon’ yang ngendon sangat dalam di alam bawah sadarnya.

@TwiSpeaking ya kurang lebih begitulah. Over-pede, tapi sebetulanya sama sekali nggak pede🙂

Identitas diri yang tulen nggak penting. Yang penting adalah citra yang ditampilkan kepada dunia. Ja’im abis lah.

Inferiority complex ini juga bisa diidap secara kolektif. Misalnya oleh suatu bangsa yang gamang akan identitasnya, yang merasa terhina.

Bangsa yang menolak untuk mengkonfrontasi hantu-hantu masa lalunya. Bangsa yang hidup dalam denial.

Hasilnya? Bangsa yang ngoyo, ngotot ingin ‘dianggep’. Doyan jiplak budaya orang, tapi awam sama budaya sendiri. Bangsa yang nggak pede.

Perlu saya sebut contoh bangsa-bangsa dimaksud?

Tadi udah ada yang sebut, misalnya, Jerman di masa Hitler, Prancis pada masa Napoleon, Rusia di bawah Putin…

Biasanya mencerminkan inferiority complex pemimpinnya. Dan biasanya pemimpinnya cukup populer di dalam negeri. Makanya dipilih🙂

Bagaimana dengan Venezuela di bawah Hugo Chavez, Iran di bawah Ahmadinejad, Libya di bawah Khaddafi?

dan… ehem… bagaimana dengan Indonesia?

Makanya, jangan takut konfrontir hantu-hantu masa lalu anda. Lepaskan. Terima diri kita apa adanya🙂

@Lapau_IJP kenapa tidak bung? Identitas dan psyche suatu bangsa kan terbentuk dari pengalaman kolektif?

@Lapau_IJP tambahkan sedikit propaganda sejarah yang dijejali selama bertahun-tahun dan didengungulangkan ad infinitum, and voila!

We have collective inferiority complex!

Bukan cuma bangsa, umat beragama tertentu juga rentan menjadi pengidap collective inferiority complex.

Kenapa kaum agama tertentu menyandang collective inferiority complex? Karena sepanjang hidupnya yang ia tahu agamanya dihina, dijelek2an.

Kenapa begitu mudah tersulut ketika agamanya dihina dan dijelek-jelekkan? Karena identitas kelompok menafikan identitas pribadi dia.

Dia sebagai diri tidak eksis. Yang ada hanya selapis identitas di permukaan, yang membuat dia merasa jadi penting dan dianggap.

Istilah lainnya: lemah iman🙂

Maka ketika selapis identitas ini dicabik-cabik, runtuhlah dia sebagai manusia.

@Lapau_IJP coba anda teliti satu-satu komponen yang membentuk suatu kelompok berdasarkan kesamaan identitas kolektif.

@Lapau_IJP komponennya kan manusia? Kenapa mereka berkelompok? Karena mereka merasa sama. Maka terbentuklah identitas kolektif.

@Lapau_IJP kalau masing-masing individu pembentuk kelompok ini menyandang inferiority complex, complex ini akan teramplifikasi dlm kelompok.

@Lapau_IJP Hitler terpilih secara demokratis oleh rakyatnya dengan menunggang platform inferiority complex kolektif ini.

@Lapau_IJP pemimpin yang populis umumnya cenderung mengeksploitasi inferiority complex rakyatnya.

Hadapi dan bunuh hantu-hantumu. Let them go. RT @ajiiiiiiii: obat inferiority complex apa ya bro? gue penderita nih.

Superiority complex. Contoh: Amerika🙂 RT @syahrulk: lawan kata inferiotiy complex apa bang?

@syahrulk kebanyakan masalah psikis memang akibat residu masa lalu yang terrekam di bawah sadar: paranoia, schizophrenia, phobia, pedophilia

@tsunami031 dan tadinya topiknya tentang Inception dan pentingnya mengkonfrontir hantu masa lalu. Inferiority complex cuma satu contoh🙂

Tagged:
Posted in: Uncategorized